Arif, Guru MIFABARA yang Tumbuhkan Keteladanan melalui Kepedulian terhadap Lingkungan

Banjarnegara – Keteladanan seorang guru tidak selalu hadir melalui kata-kata dan pembelajaran di dalam kelas. Terkadang, nilai-nilai kebaikan justru tumbuh dari tindakan sederhana yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Hal itulah yang ditunjukkan Arif, salah satu guru MI Al Fatah Parakancanggah (MIFABARA) melalui kepeduliannya terhadap lingkungan madrasah.(31/8)

Di tengah kondisi cuaca yang cukup kering, beberapa tanaman di lingkungan madrasah tampak mulai layu dan gersang karena kekurangan air. Melihat kondisi tersebut, Arif menunjukkan rasa empati terhadap tanaman yang terancam tidak dapat bertahan. Tanpa menunggu perintah, ia berinisiatif mencari sumber air yang cukup untuk digunakan menyiram tanaman-tanaman tersebut.

Tindakan sederhana itu menjadi gambaran bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari kepekaan melihat keadaan di sekitar. Tanaman yang mungkin dianggap sebagai bagian kecil dari lingkungan, ternyata membutuhkan perhatian agar tetap tumbuh dan memberikan manfaat.

Dengan penuh kesadaran, Arif berupaya memastikan tanaman mendapatkan air yang dibutuhkan. Baginya, merawat lingkungan bukan sekadar menjalankan program madrasah, tetapi merupakan bentuk tanggung jawab bersama untuk menjaga kehidupan dan menciptakan lingkungan yang sehat serta nyaman.

Apa yang dilakukan Arif juga menjadi pembelajaran yang sangat berarti bagi murid-murid MIFABARA. Anak-anak dapat melihat secara langsung bahwa mencintai lingkungan bukan hanya tentang mengetahui pentingnya menjaga kebersihan, tetapi juga tentang mau peduli, mau bergerak, dan mau melakukan sesuatu ketika melihat lingkungan membutuhkan perhatian.

Kepala MIFABARA, Durotun Nafisah,  menyampaikan bahwa keteladanan guru merupakan bagian penting dalam pendidikan karakter peserta didik.

“Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang kita sampaikan, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dan rasakan dari keteladanan gurunya. Kepedulian terhadap tanaman dan lingkungan seperti yang dilakukan Pak Arif adalah contoh sederhana yang memiliki makna besar bagi pendidikan karakter anak,” ungkapnya.

Sebab, menjaga lingkungan sejatinya adalah menjaga kehidupan. Ketika seorang guru memilih untuk menyelamatkan tanaman yang hampir layu, ia sedang mengajarkan sebuah nilai kepada generasi berikutnya: bahwa sesuatu yang kecil tetap layak diperhatikan, dirawat, dan diselamatkan.

Dari tangan guru, tumbuh keteladanan. Dari keteladanan, tumbuh kepedulian. Dan dari kepedulian yang terus dibiasakan, insyaallah akan lahir generasi MIFABARA yang tidak hanya cerdas dan berprestasi, tetapi juga memiliki hati yang peka terhadap sesama dan lingkungan.(nas)