Banjarnegara (Humas) – Dalam suasana penuh kehangatan dan kebersamaan, Yulis sebagai Penyuluh Agama Islam Kecamatan Pandanarum, kembali melaksanakan kegiatan bimbingan dan penyuluhan keagamaan di lingkungan pendidikan anak usia dini. Kegiatan kali ini berlangsung di PAUD Mentari, Desa Beji Wetan, pada Jumat (07/11) pukul 08.00–09.30 WIB, dan dihadiri oleh para wali murid.
Berbeda dari biasanya, kegiatan penyuluhan kali ini dikemas dalam bentuk diskusi interaktif. Yulis tidak hanya menyampaikan materi satu arah, melainkan lebih banyak mendengarkan pengalaman dan cerita para wali murid dalam mendidik buah hati mereka sehari-hari. Melalui pendekatan ini, ia ingin menggali pelajaran berharga dari pengalaman nyata para orang tua, sekaligus menguatkan peran mereka sebagai pendidik utama di rumah.
“Setiap orang tua punya kisah dan cara tersendiri dalam mendidik anak. Dari pengalaman itu, kita bisa belajar banyak hal tentang kesabaran, kasih sayang, dan keteladanan,” ujar Yulis membuka sesi diskusi.
Dalam dialog yang berlangsung akrab tersebut, beberapa wali murid berbagi cerita tentang tantangan mendampingi anak di masa tumbuh kembang, mulai dari membiasakan anak salat, menanamkan sopan santun, hingga mengatur penggunaan gawai di rumah. Yulis menanggapi setiap cerita dengan hangat, mengaitkannya dengan nilai-nilai ajaran Islam, serta memberikan penguatan agar para orang tua tetap sabar dan istiqamah dalam mendidik anak-anak mereka.
Ia menegaskan bahwa pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan terutama tanggung jawab keluarga, dengan orang tua sebagai madrasah pertama bagi anak. “Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat, bukan sekadar dari apa yang mereka dengar. Maka teladan kita sebagai orang tua menjadi kunci utama,” tambahnya.
Suasana kegiatan berjalan hangat dan penuh makna. Banyak wali murid yang merasa tersentuh dan termotivasi untuk memperbaiki cara mendidik anak di rumah. Mereka mengapresiasi cara Yulis membimbing dengan pendekatan empatik dan membangun suasana yang menyenangkan.
Dengan metode penyuluhan yang partisipatif dan menyentuh hati, Yulis berhasil menunjukkan bahwa dakwah di bidang pendidikan anak usia dini bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga mendengarkan, memahami, dan menumbuhkan kesadaran bersama tentang pentingnya peran keluarga dalam menanamkan nilai-nilai iman dan akhlak mulia.
(ev/ azd)







