Belajar Bangun Datar dengan Hands On: Siswa 2D Lebih Mudah Mengenal Bentuk dan Sifatnya

Banjarnegara – Kamis, 6/11 suasana kelas 2D MI Al Fatah Parakancanggah (MIFABARA) pagi itu tampak ceria dan penuh semangat. Di bawah bimbingan Wardah Adilla, wali kelas 2D, para siswa mengikuti pembelajaran Matematika dengan metode hands on activity atau belajar melalui praktik langsung. Tema yang diangkat kali ini adalah “Mengenal Bentuk-Bentuk Bangun Datar.”

Alih-alih hanya mendengarkan penjelasan dari guru, siswa tampak aktif memegang dan mengamati berbagai model bangun datar yang terbuat dari batang/lidi maupun stik es krim yang dihubungkan dengan plastisin. Mereka memutar, menempel, serta membandingkan setiap bentuk sambil menyebutkan ciri-cirinya  mulai dari jumlah sisi, sudut, hingga titik sudut.

“Anak-anak di usia ini belajar paling efektif ketika mereka bisa menyentuh dan melihat langsung,” ujar Wardah Adilla, menjelaskan alasan digunakannya metode hands on dalam pembelajaran kali ini. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga bertujuan agar siswa lebih mudah memahami konsep abstrak matematika dengan cara konkret dan menyenangkan.

Kegiatan dimulai dengan pengenalan berbagai bentuk bangun datar seperti segitiga, persegi, persegi panjang, dan lingkaran. Setelah itu, siswa diajak mengamati persamaan dan perbedaan antar bangun datar dengan menggunakan media yang mereka buat sendiri. Setiap anak diberi kesempatan menunjukkan hasil pengamatannya di depan kelas.

“Segitiga punya tiga sisi dan tiga sudut!” seru salah satu siswa dengan penuh percaya diri, diikuti tepuk tangan teman-temannya.

Wardah terlihat tersenyum bangga melihat antusiasme anak-anaknya. “Saya ingin mereka tidak hanya tahu nama bentuk, tapi juga memahami sifatnya. Dengan praktik langsung, konsep seperti sisi, sudut, dan titik sudut jadi lebih mudah mereka tangkap,” tuturnya.

Kegiatan hands on ini juga melatih kerja sama dan komunikasi antar siswa, karena mereka belajar dalam kelompok kecil. Mereka saling membantu menempel potongan bentuk, menghitung sisi, dan membandingkan ukuran. Di akhir kegiatan, setiap kelompok menampilkan hasil karyanya di papan pajangan kelas sebagai bentuk apresiasi.

Durotun Nafisah, kepala madrasah menegaskan bahwa melalui pembelajaran yang aktif dan menyenangkan ini, siswa kelas 2D tidak hanya belajar Matematika, tetapi juga belajar berani mengemukakan pendapat, bekerja sama, dan berpikir logis. Pembelajaran hands on terbukti membuat pelajaran bangun datar menjadi pengalaman yang berkesan sekaligus bermakna bagi anak-anak.(dil/nas)

Skip to content