Banjarnegara – Jumat, (26/9/2025) menjadi hari yang tak biasa bagi siswa kelas 4 MI Miftahul Mubtadi’in (MIMUB) Kaliwinasuh. Mereka mengikuti pembelajaran luar kelas yang dikemas dalam kegiatan edukatif bertajuk “Kunjungi Pasar Perja, Anak-Anak Belajar Bertransaksi”. Kegiatan ini menjadi bagian dari materi pengenalan lingkungan pasar yang menyenangkan dan penuh makna.
Sejak pagi, para siswa sudah tampak antusias. Mereka berangkat dari madrasah dengan berjalan kaki bersama guru pendamping. Di sepanjang perjalanan, mereka tidak hanya menikmati suasana, tapi juga dilatih keberanian dan kemandirian. Salah satu momen menarik adalah ketika mereka harus berlatih menghentikan mikrolet dan menawar ongkos transportasi secara langsung. Kegiatan ini menjadi pembuka yang menggugah rasa percaya diri mereka.
Setibanya di Pasar Perja, para siswa dibekali uang saku sebesar Rp16.000 hingga Rp20.000. Uang tersebut digunakan sebagai alat praktik untuk belajar bertransaksi langsung. Mulai dari tawar-menawar harga, memilih barang, hingga mengelola keuangan mereka sendiri. Mereka juga diminta mengamati kondisi fisik dan nonfisik pasar, mulai dari kebersihan, keramahan penjual, hingga proses jual beli yang berlangsung.
Nurhayati, salah satu guru pendamping, mengungkapkan keseruannya. “Belajar langsung di pasar sangat seru. Walaupun anak-anak sudah beberapa kali ke pasar, tetapi pengalaman dan kesannya berbeda. Mereka belajar mengatur keuangan sendiri, dan bersama teman-teman terasa lebih menyenangkan,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa para penjual di Pasar Perja sangat ramah dan antusias menerima kehadiran siswa. “Bahkan, beberapa penjual minta foto bersama anak-anak,” tambahnya sambil tersenyum.
Ghania, siswa kelas 4, juga tak kalah bahagia. “Senang sekali rasanya bisa belajar langsung di pasar. Penjualnya baik dan ramah. Saya belanja tempe, kentang, wortel dan pensil warna. Karena hari Jumat belajar berbagi, saya bagikan tempe hasil belanjaan saya kepada orang lain,” katanya penuh semangat.
Ka’ab, teman sekelas Ghania, turut menyampaikan pengalamannya. “Aku senang bisa ke pasar bersama teman-teman. Aku belanja tahu dan tempe buat Mama,” ucapnya sambil tersenyum bangga.
Kegiatan ini tidak hanya memberi pengalaman belajar yang berbeda, tapi juga menanamkan nilai-nilai kemandirian, keberanian, sosial, serta pengelolaan keuangan sejak dini. Para siswa pun pulang dengan wajah ceria dan segudang cerita yang siap mereka bagi kepada keluarga di rumah.
Pembelajaran luar kelas seperti ini membuktikan bahwa belajar tidak melulu harus di dalam ruangan. Dengan pendekatan kontekstual dan pengalaman langsung, anak-anak lebih mudah memahami materi sekaligus membentuk karakter yang kuat dan mandiri. (rs)







