Berburu Harga, Bersahabat dengan Angka: Cara Seru Siswa Kelas 3 MIFABARA Belajar Bilangan Cacah

Banjarnegara – Belajar matematika tidak selalu harus dilakukan dengan deretan angka dan soal di papan tulis. Siswa kelas 3 MI Al Fatah Parakancanggah (MIFABARA) membuktikannya melalui pembelajaran kreatif dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kali ini, mereka belajar membaca dan menulis bilangan cacah melalui aktivitas berburu harga makanan tradisional.(3/8)

Dalam pembelajaran tersebut, guru Mufida Fatma menyiapkan lembar daftar harga berbagai makanan tradisional. Lembar tersebut kemudian ditempel di dinding kelas sehingga mudah diamati oleh siswa. Beragam pilihan menu dengan harga yang berbeda membuat suasana pembelajaran menjadi lebih hidup dan menarik.

Kupon yang telah dipilih kemudian dibawa ke tempat duduk masing-masing untuk dibaca dengan teliti. Siswa membaca nama makanan sekaligus bilangan yang menunjukkan harganya. Selanjutnya, kupon ditempelkan di buku tulis dan siswa menuliskan kembali bilangan berdasarkan harga yang tertera.

Guru kelas 3, Mufida Fatma, mengatakan bahwa kegiatan tersebut dirancang agar siswa tidak hanya memahami bilangan cacah secara teori, tetapi juga mampu menghubungkannya dengan situasi yang mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami ingin anak-anak tidak merasa bahwa matematika itu sulit dan hanya berisi angka. Dengan menggunakan daftar harga makanan yang dekat dengan kehidupan mereka, anak dapat belajar membaca dan menulis bilangan melalui pengalaman yang menyenangkan. Mereka memilih sendiri, membaca harga, menggunting, menempel, kemudian menuliskannya kembali,” jelas Mufida Fatma.

Aktivitas sederhana tersebut sekaligus melatih berbagai keterampilan siswa, mulai dari membaca bilangan, menulis bilangan, mengenali angka, mengikuti instruksi, ketelitian, hingga koordinasi motorik melalui kegiatan menggunting dan menempel.

Kepala MI Al Fatah Parakancanggah, Durotun Nafisah, mengapresiasi kreativitas guru dalam menghadirkan pembelajaran matematika yang kontekstual dan menyenangkan.

“Pembelajaran seperti ini sangat baik karena anak-anak belajar melalui pengalaman. Mereka tidak hanya mengetahui bilangan cacah, tetapi juga memahami bahwa matematika hadir dalam kehidupan sehari-hari. Inilah pembelajaran yang kami harapkan di MIFABARA, pembelajaran yang membuat anak aktif, senang, dan menemukan makna dari apa yang dipelajarinya,” tutur Durotun Nafisah.

Dari makanan tradisional, anak-anak belajar membaca angka. Dari sebuah kupon kecil, mereka belajar menulis bilangan. Dan dari aktivitas sederhana, tumbuh pengalaman bahwa matematika dapat dipelajari dengan cara yang menyenangkan, dekat dengan kehidupan, dan penuh makna.(nas)