Banjarnegara (Humas) — Suasana berbeda tampak dalam kegiatan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang digelar Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Karangkobar, Selasa (9/6/2026). Sebanyak 13 pasangan, terdiri atas 9 pasangan calon pengantin (catin) dan 4 pasangan pengantin baru, mengikuti kegiatan yang dikemas secara interaktif dan reflektif untuk membekali peserta membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.
Mewakili Kepala KUA Karangkobar, Penyuluh Agama Islam sekaligus Wakil Kepala KUA Karangkobar, Amat Zuhri, menyampaikan bahwa pernikahan bukan sekadar prosesi akad, melainkan awal perjalanan panjang dalam membangun keluarga yang diridhai Allah SWT.
“Pernikahan adalah ibadah yang membutuhkan ilmu, kesabaran, dan komitmen. Karena itu, pasangan perlu mempersiapkan diri sebaik mungkin agar mampu membangun rumah tangga yang harmonis dan penuh keberkahan,” ujarnya.
Materi utama disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Karangkobar, Duwi Rohmah, yang juga bertindak sebagai fasilitator Bimwin. Dengan metode partisipatif, peserta diajak memahami bahwa keluarga sakinah memerlukan visi yang jelas, komunikasi yang sehat, dan komitmen yang kuat.
Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah aktivitas “Sungai Kehidupan”. Dalam kegiatan ini, setiap pasangan diminta memetakan perjalanan hidup dan merancang masa depan rumah tangga mereka. Peserta menuliskan prioritas dan harapan yang ingin dicapai pada lima tahun pertama pernikahan, lima tahun kedua, hingga cita-cita jangka panjang keluarga.
Melalui aktivitas tersebut, pasangan diajak menyadari bahwa pernikahan tidak cukup dijalani dengan cinta semata, tetapi juga membutuhkan tujuan hidup yang terarah dan direncanakan bersama.
Keceriaan semakin terasa saat peserta mengikuti “Kuis Siapa Dia”, sebuah permainan yang menguji seberapa jauh pasangan mengenal satu sama lain. Berbagai pertanyaan seputar kebiasaan, kesukaan, harapan, hingga cara menghadapi masalah memancing gelak tawa sekaligus membuka ruang komunikasi yang lebih dalam antar pasangan.
“Sering kali kita merasa sudah mengenal pasangan, padahal masih banyak hal yang perlu dipahami dan dikomunikasikan. Melalui permainan ini, peserta belajar untuk lebih terbuka dan saling memahami,” jelas Duwi.
Sebagai penutup, seluruh peserta mengikuti Tepuk Sakinah yang memperkenalkan nilai-nilai keluarga sakinah secara menyenangkan dan mudah diingat. Tepuk tersebut memuat pesan tentang pentingnya membangun janji yang kokoh (mitsaqan ghalizha), saling mencintai, saling menghormati, saling menjaga, saling meridhai, serta membiasakan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan keluarga.
“Rumah tangga tidak cukup dibangun dengan cinta saja, tetapi juga dengan pemahaman, komunikasi, dan komitmen untuk terus bertumbuh bersama,” pungkas Duwi.
Melalui Bimwin ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami teori perkawinan, tetapi juga memiliki bekal praktis untuk membangun keluarga yang kokoh, harmonis, dan mampu mewujudkan keluarga sakinah maslahah serta melahirkan generasi yang berkualitas.
(dr/azd)







