Banjarnegara (Humas) – MTs Negeri 1 Banjarnegara terus menunjukkan komitmennya dalam menumbuhkan budaya literasi di lingkungan madrasah melalui kegiatan Membaca Senyap yang dilaksanakan secara rutin setiap hari Senin pada pekan yang tidak diselenggarakannya upacara bendera. Seperti pada Senin (3/11), seluruh siswa dari kelas 7 hingga kelas 9 mengikuti kegiatan literasi ini secara serentak di kelas masing-masing, didampingi oleh wali kelas.
Kegiatan yang berlangsung selama 30 menit pada jam pelajaran pertama ini mengharuskan setiap siswa membaca buku pilihan mereka, baik buku fiksi maupun nonfiksi, yang tersedia di pojok baca kelas masing-masing. Setelah sesi membaca selesai, 15 menit berikutnya siswa melanjutkan dengan menuliskan ringkasan bacaan mereka dalam Jurnal Membaca Senyap, buku khusus yang dimiliki setiap siswa sebagai bagian dari evaluasi dan dokumentasi kegiatan literasi.
Hj. Yuniyati, salah satu pegiat literasi Madtsansa sekaligus Wakil Kepala Urusan Kurikulum, menyampaikan bahwa kegiatan rutin ini sudah menjadi ciri khas MTsN 1 Banjarnegara sejak beberapa tahun terakhir dan telah memberikan dampak positif terhadap minat baca siswa.
“Membaca Senyap bukan sekadar kegiatan formal, tetapi bagian dari strategi menanamkan kebiasaan membaca secara mandiri dan menyenangkan. Kita ingin membiasakan siswa untuk akrab dengan buku, berpikir kritis, dan mampu menyerap informasi dengan baik. Alhamdulillah, perkembangannya terlihat nyata dari semakin antusiasnya siswa dalam memilih bacaan dan membuat ringkasan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Hj. Yuniyati menambahkan bahwa jurnal membaca tidak hanya berfungsi sebagai laporan, tetapi juga sebagai alat pemantau perkembangan literasi siswa dari minggu ke minggu.
Di kelas 8C, kegiatan dipantau langsung oleh wali kelas Rahma Ayu Arina Putri. Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya melatih kemampuan memahami teks, tetapi juga membangun karakter disiplin dan kemandirian belajar.
“Anak-anak mulai terbiasa mengatur waktu, memilih bacaan yang bermanfaat, dan menuliskan kembali isi bacaan dengan bahasa mereka sendiri. Sebagai wali kelas, saya sangat merasakan perubahan. Banyak siswa yang tadinya jarang menyentuh buku kini justru menunggu jadwal membaca senyap karena merasa nyaman dengan suasananya,” jelas Rahma.
Salah satu siswa kelas 8C, Qori Zamanis, yang juga siswa unggulan Tahfiz, mengaku bahwa membaca senyap membantunya memperluas wawasan di luar pelajaran pokok.
“Biasanya saya membaca buku-buku motivasi dan sejarah Islam. Walaupun saya fokus di Tahfiz, tapi membaca buku lain membuat saya lebih paham banyak hal. Menulis ringkasan juga membantu saya mengingat isi bacaan dengan lebih baik,” ungkap Qori.
Sementara itu, Bintang, siswa kelas 9D, mengaku memilih buku-buku sains populer dan pengetahuan umum sebagai bahan bacaannya.
“Saya suka membaca hal-hal baru tentang teknologi dan sains. Kalau hanya belajar dari buku pelajaran rasanya kurang. Dengan membaca senyap, saya bisa dapat tambahan pengetahuan tanpa harus dipaksa,” katanya.
Menurut data internal madrasah, lebih dari 95% siswa sudah konsisten mengisi jurnal baca mingguan dengan baik, dan guru-guru juga berperan aktif memeriksa serta memberi catatan apresiasi pada karya ringkasan siswa. Madrasah juga terus menambah koleksi pojok baca di kelas melalui hibah buku, sumbangan guru, dan program donasi literasi dari alumni.
Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, dalam beberapa kesempatan sebelumnya juga menegaskan bahwa pihak madrasah berkomitmen menjadikan literasi sebagai budaya utama. Ia percaya bahwa pembiasaan membaca akan menjadi bekal penting bagi siswa di masa depan.
Dengan keterlibatan aktif guru, dukungan madrasah, serta antusiasme siswa, program Membaca Senyap diproyeksikan akan terus berlanjut dan berkembang, tidak hanya sebagai kegiatan rutin tetapi sebagai ciri khas budaya belajar di Madtsansa, madrasah yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga dalam karakter dan budaya literasi. (Fy/La)







