Edukasi Spiritual Wali Siswa TK Pertiwi Siswarini: Menyelami Ilmu Memaklumi Bersama Penyuluh KUA

Banjarnegara (Humas) – Suasana khidmat menyelimuti salah satu ruang kelas TK Pertiwi Siswarini Kasmaran pada Selasa (15/4/2026). Puluhan jamaah yang terdiri dari siswa dan wali siswa berkumpul dalam agenda bimbingan penyuluhan yang diselenggarakan oleh Majelis Taklim (MT) Thalibatun Nabilah. Menghadirkan Penyuluh Agama Islam fungsional dari KUA Pagentan, M. Syaiful Abidin, kegiatan ini mengusung tema yang menggugah spiritualitas: “Ilmu Memaklumi: Amalan Berat, Balasan Dahsyat”.

Sebanyak 84 peserta tampak antusias menyimak materi yang disampaikan. Dalam tausiyahnya, M. Syaiful Abidin menekankan pentingnya memiliki kelapangan hati dalam berinteraksi sosial, terutama dalam lingkup keluarga dan bertetangga. Menurutnya, “ilmu memaklumi” adalah tingkatan akhlak yang tinggi karena menuntut seseorang untuk menekan ego dan mengedepankan kasih sayang.

Syaiful menyoroti fenomena psikologis masyarakat yang cenderung tajam dalam menilai orang lain namun tumpul dalam mengevaluasi diri sendiri. Ia mengajak para jamaah untuk mengubah sudut pandang dalam memandang kesalahan sesama manusia.

“Seringkali kita sangat teliti terhadap kesalahan orang lain kepada kita, tapi kita sangat abai terhadap kesalahan kita kepada Allah. Ulama ini mengajarkan, kalau kita ingin Allah ‘maklum’ dengan dosa kita, maka kita harus belajar ‘maklum’ dengan kekurangan orang lain,” ujar Syaiful di hadapan para wali siswa.

Ia menambahkan bahwa dengan memaklumi kekurangan orang lain, seseorang sebenarnya sedang mempermudah jalannya sendiri menuju ampunan Allah Swt. Balasan bagi mereka yang mampu memaafkan dan memaklumi tanpa mendendam adalah ketenangan batin di dunia dan derajat mulia di akhirat.

Ketua MT Thalibatun Nabilah yang juga menjabat sebagai Kepala TK Pertiwi Siswarini Kasmaran, Dwi Tuti Setianingsih, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, materi yang disampaikan sangat relevan dengan dinamika pendidikan anak usia dini, di mana kerja sama dan rasa saling memaklumi antara guru dan orang tua sangat diperlukan.

Dwi Tuti berharap kegiatan rutin seperti ini dapat terus mempererat tali silaturahmi sekaligus meningkatkan pemahaman agama bagi para wali siswa. Hal ini sejalan dengan visi sekolah untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang berbasis nilai-nilai karakter dan spiritualitas yang kuat.

Acara yang berlangsung selama dua jam tersebut ditutup dengan doa bersama. Para peserta mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental melalui praktik memaafkan dan memaklumi sebagai bagian dari ibadah kepada Sang Pencipta. (msa/azd)

Skip to content