Hari Kedua Panen Karya P5RA MTs Negeri 1 Banjarnegara Semarak dengan Lomba Drama dan Yel-Yel Bertema Anti Pernikahan Dini

Banjarnegara — Hari kedua kegiatan Panen Karya Profil Pelajar Pancasila dan Rahmatan Lil ‘Alamin (P5RA) MTs Negeri 1 Banjarnegara, Rabu (10/12), berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Mengusung topik besar “MARI BERANI: Membangun Remaja Indonesia Berencana dan Anti Pernikahan Dini”, rangkaian acara difokuskan pada aksi unjuk kreativitas melalui lomba drama dan yel-yel bertema pencegahan pernikahan dini.

Sejak pagi, halaman madrasah sudah dipenuhi para siswa dari berbagai kelas yang tampil dengan kostum, properti, dan semangat luar biasa. Hari kedua ini menjadi momentum bagi peserta untuk menunjukkan pemahaman mereka tentang isu kesehatan reproduksi remaja, perencanaan masa depan, serta bahaya pernikahan dini yang dikemas dalam bentuk seni pertunjukan.

Acara hari kedua dimulai dengan apel persiapan yang dipandu oleh MC, Rahma Ayu Arina Putri, dengan pembawaan yang lugas dan penuh energi. Dalam sambutannya sebagai pemandu acara, Rahma menekankan bahwa kegiatan hari ini bukan sekadar kompetisi, tetapi ruang pembelajaran nilai penting bagi remaja.

“Teman-teman hari ini bukan hanya tampil, tetapi kita belajar menyuarakan hal-hal yang bermanfaat bagi masa depan kita. Drama dan yel-yel ini adalah cara kita menunjukkan bahwa remaja harus berani menolak pernikahan dini dan merencanakan masa depan dengan lebih baik,” ujar Ayu dengan penuh semangat.

Apel kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh Ikhsanudin, yang memohon kelancaran acara serta keberkahan bagi seluruh peserta dan panitia.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum, Hj. Yuniyati, memberikan arahan sekaligus membuka kegiatan. Ia mengapresiasi kerja keras para siswa serta guru pendamping yang telah menyiapkan penampilan dengan matang.

“Panen karya ini adalah wujud nyata dari pembelajaran berbasis projek. Hari ini anak-anak tidak hanya tampil, tetapi menunjukkan bahwa mereka memahami isu sosial yang relevan dengan kehidupan remaja. Pernikahan dini adalah persoalan serius, dan melalui karya ini kalian telah ikut menyuarakan pencegahannya,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua P5RA, Hj. Hani Farkhatun, menambahkan bahwa kegiatan ini dirancang agar siswa mampu menginternalisasi nilai-nilai P5RA melalui pengalaman langsung.

“Kami ingin anak-anak mampu berpikir kritis dan kreatif. Drama dan yel-yel bertema anti pernikahan dini ini bukan hanya hiburan, tetapi media penyadaran. Kita berharap pesan yang disampaikan hari ini bisa membekas dalam diri para peserta sekaligus penonton,” tuturnya.

Lomba drama yang dimulai sejak urutan kelas 9A hingga 7D berlangsung penuh makna. Setiap kelas menghadirkan alur cerita yang unik mulai dari kisah remaja yang bertekad mengejar pendidikan, konflik keluarga yang menekan pernikahan dini, hingga pesan moral tentang pentingnya dukungan orang tua.

Para penonton tampak terbawa suasana; ada yang terharu, ada pula yang tertawa melihat adegan-adegan komedi yang disisipkan sebagai penguat pesan.

Setelah drama, giliran lomba yel-yel dari kelas 8J hingga 8I yang memanaskan suasana. Para peserta kompak memberikan sorakan penuh semangat, mengajak seluruh siswa untuk berani bermimpi, berani mengatakan “tidak” pada pernikahan dini, dan berani melangkah mencapai cita-cita.

Wali kelas 7D, Nurwachidin Supriyatno, yang kelasnya tampil pada sesi drama, memberikan tanggapan penuh kebanggaan.

“Anak-anak ini luar biasa. Mereka bukan hanya berlatih untuk menang, tetapi memahami pesan penting di balik tema kegiatan. Itulah tujuan pendidikan karakter—menguatkan kesadaran dan membentuk perilaku positif melalui pengalaman langsung,” ujarnya.

Panen Karya P5RA hari kedua ini membuktikan bahwa pendidikan karakter dapat disampaikan dengan cara menyenangkan dan kreatif. Pesan pencegahan pernikahan dini berhasil dikemas menarik sehingga mudah diterima para siswa.

Dengan melihat antusiasme peserta dan kualitas penampilan yang ditampilkan, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang lomba, tetapi juga sarana pembentukan remaja yang berani bermimpi, berani merencanakan masa depan, dan berani menolak pernikahan dini. (Fy)

Skip to content