Jadi Responden, Wibu Madtsansa Dukung Penelitian Siswa Kelas Unggulan Riset

Banjarnegara – Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Banjarnegara kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan riset peserta didik melalui keterlibatan aktif para siswa dalam kegiatan penelitian sosial. Pada Senin (28/7), sebanyak 30 siswa-siswi Madtsansa menjadi responden dalam penelitian yang dilakukan oleh tim riset kelas unggulan riset, yakni Wildan Dafik Mubarok dan Fadey Arkana Bintara Valiant.

Penelitian ini merupakan bagian dari persiapan Madtsansa untuk ajang bergengsi Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tahun 2025. Dengan mengangkat tema perilaku penggemar anime di lingkungan Madtsansa, penelitian ini mencoba menelaah bagaimana budaya populer Jepang, khususnya anime, memengaruhi gaya hidup, kebiasaan, dan pandangan hidup siswa madrasah.

Kegiatan pengambilan data dilakukan di serambi Masjid Darul Ulum Madtsansa, yang merupakan tempat yang cukup tenang dan kondusif untuk diskusi mendalam antara peneliti dan responden. Setiap responden diberikan beberapa pertanyaan yang dirancang untuk menggali motivasi, kebiasaan menonton, serta dampak yang dirasakan dari hobi menonton anime.

Menurut Wildan Dafik Mubarok, salah satu anggota tim peneliti, tema ini diangkat karena fenomena wibu atau penggemar anime kini semakin umum di kalangan remaja madrasah, dan menarik untuk dikaji dari sudut pandang sosial.

“Awalnya saya dan Valiant sering ngobrol dengan teman-teman yang suka anime. Ternyata banyak hal menarik, mulai dari cara mereka berpakaian, berbicara, sampai bagaimana mereka menilai dunia sekitar. Dari situlah kami tertarik untuk menjadikannya bahan penelitian yang lebih serius,” jelas Wildan.

Senada dengan itu, Fadey Arkana Bintara Valiant menambahkan bahwa penelitian ini juga bertujuan untuk membuka wawasan masyarakat madrasah tentang bagaimana budaya luar bisa berdampingan dengan nilai-nilai lokal dan religius.

“Kami ingin melihat apakah ada pengaruh positif atau justru sebaliknya. Misalnya, apakah menonton anime bisa meningkatkan minat baca, memperkaya kosa kata bahasa asing, atau mungkin malah menurunkan minat ibadah. Semua ini perlu dikaji dengan pendekatan ilmiah,” terang Valiant.

Sementara itu, pembimbing riset, Musfiatul Muniroh, mengungkapkan rasa bangganya atas semangat dan keseriusan anak didiknya dalam menjalankan penelitian ini. Ia menekankan bahwa keterlibatan aktif responden juga menjadi kunci keberhasilan proses riset.

“Saya mengapresiasi semangat anak-anak. Tidak hanya Wildan dan Valiant yang penuh semangat, tetapi juga para responden yang dengan antusias menjawab setiap pertanyaan. Ini menunjukkan bahwa budaya riset di Madtsansa sudah mulai tumbuh,” ujar Musfiatul.

Dari sisi responden, Khairo Arfa Al Haidar, salah satu siswa kelas 8 yang mengaku sebagai penggemar berat anime, merasa senang bisa ikut ambil bagian dalam penelitian ini. Ia mengaku tidak hanya merasa dihargai, tetapi juga belajar banyak dari proses wawancara tersebut.

“Senang banget bisa jadi responden. Ternyata hobi nonton anime juga bisa jadi bahan penelitian. Saya juga jadi mikir, apakah kebiasaan saya ini sudah berlebihan atau masih wajar,” kata Khairo sambil tertawa.

Lebih lanjut, Khairo menyebutkan bahwa anime bukan sekadar tontonan, tetapi juga sumber inspirasi dan semangat belajar.

“Saya suka anime karena ceritanya seru dan kadang mengandung nilai-nilai seperti kerja keras, persahabatan, dan pantang menyerah. Itu yang bikin saya termotivasi,” tambahnya.

Penelitian ini dijadwalkan rampung dalam waktu dua bulaan ke depan, dan hasilnya akan disusun dalam bentuk laporan ilmiah untuk diajukan dalam seleksi OPSI tingkatNasional.

Dengan semangat kolaboratif antara peneliti, pembimbing, dan responden, Madtsansa sekali lagi menunjukkan bahwa madrasah bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga menjadi wadah pengembangan ilmu pengetahuan dan budaya. Dukungan siswa-siswi Madtsansa terhadap riset ini menjadi bukti nyata bahwa generasi muda madrasah siap berkontribusi dalam dunia ilmiah dan penelitian. (Lin)

Skip to content