Jangan Biarkan Rumah Kehilangan Cinta dan Iman, Penyuluh KUA Wanadadi Ajak Jamaah Teladani Kisah Habil dan Qabil dalam Mendidik Remaja

Banjarnegara (Humas) — Suasana penuh khidmat dan haru menyelimuti kegiatan bimbingan dan penyuluhan yang dilaksanakan di Majelis Taklim Al Ikhlas Karangkemiri pada Senin (11/5/2026). Kegiatan yang diisi oleh Penyuluh Agama Islam KUA Wanadadi, Dewi Kholifah dan Namyroh Ndaruwati tersebut mengangkat tema tentang kisah Habil dan Qabil serta pentingnya memahami peran orang tua dalam pendidikan anak usia remaja.

Kegiatan diikuti dengan antusias oleh jamaah majelis taklim yang mayoritas merupakan para ibu. Dalam penyampaiannya, para penyuluh mengajak jamaah untuk mengambil pelajaran dari kisah Habil dan Qabil sebagai cermin pentingnya menanamkan nilai keimanan, kasih sayang, dan pengendalian diri sejak dini kepada anak-anak.

Penyuluh Agama Islam Dewi Kholifah menjelaskan bahwa kisah Habil dan Qabil bukan sekadar cerita sejarah, namun menjadi pelajaran besar tentang bahaya iri hati dan lemahnya pendidikan hati dalam keluarga.

“Permasalahan anak hari ini tidak hanya soal kecerdasan, tetapi juga soal akhlak dan ketahanan hati. Kisah Habil dan Qabil mengajarkan kepada kita bahwa rasa dengki yang tidak dikendalikan bisa menghancurkan hubungan saudara bahkan merusak kehidupan. Orang tua harus hadir menjadi pendidik pertama yang menanamkan iman dan kasih sayang kepada anak-anaknya,” ujar Dewi Kholifah.

Sementara itu, Namyroh Ndaruwati menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak usia remaja yang sedang berada pada fase pencarian jati diri. Menurutnya, komunikasi yang baik dan keteladanan dalam keluarga menjadi kunci utama membangun karakter anak.

“Remaja membutuhkan perhatian, pendampingan, dan teladan, bukan hanya perintah. Orang tua jangan sampai sibuk menilai kesalahan anak, tetapi lupa membangun kedekatan hati dengan mereka. Rumah harus menjadi tempat ternyaman bagi anak untuk belajar tentang cinta, iman, dan akhlak,” tutur Namyroh Ndaruwati.

Jamaah tampak menyimak materi dengan penuh perhatian. Beberapa peserta juga aktif berdiskusi mengenai tantangan mendidik anak remaja di era modern yang semakin kompleks.

Melalui kegiatan ini, KUA Wanadadi berharap majelis taklim tidak hanya menjadi tempat menambah ilmu agama, tetapi juga menjadi ruang penguatan keluarga dan pembinaan moral masyarakat.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama agar para orang tua diberikan kekuatan dan hikmah dalam mendidik generasi yang saleh, berakhlak mulia, dan berbakti kepada orang tua serta agama.

“Bimbingan dan penyuluhan keagamaan menjadi bagian penting dari ikhtiar Kementerian Agama dalam mewujudkan keluarga yang harmonis, religius, dan berkualitas demi terciptanya masyarakat yang rukun dan bermartabat,” tutup Namyroh Penyuluh KUA Wanadadi.

(NN/azd)

Skip to content