Banjarnegara – Jam istirahat menjadi salah satu waktu yang paling ditunggu oleh siswa, termasuk siswi kelas 5D MI Al Fatah Parakancanggah (MIFABARA). Namun, istirahat kali ini terasa berbeda bagi Nani, wali kelas 5D, karena ia menemukan kreativitas yang tak biasa dari murid-muridnya. Saat hendak menemani mereka beristirahat, Nani melihat sekelompok siswi sedang asyik bermain masak-masakan menggunakan kompor mini yang dibuat dari kaleng bekas, lengkap dengan api kecil dari lilin.(12/12)
Awalnya, Nani sempat terkejut karena penggunaan api, meski kecil, tetap memiliki risiko bagi keselamatan anak-anak. Namun tidak langsung menegur atau memarahi, ia memilih melihat lebih dekat dan mencoba memahami apa yang sedang mereka lakukan. Ternyata, permainan itu bukan semata-mata bermain, tetapi juga wujud kreativitas spontan yang muncul dari hasil kerja sama mereka dalam memanfaatkan barang bekas.
“Saya kaget, tapi juga takjub. Anak-anak memanfaatkan kaleng bekas menjadi kompor dan lilin sebagai sumber api. Mereka kompak sekali, berbagi peran, dan terlihat sangat kreatif,” ujar Nani.
Ia kemudian mengapresiasi kreativitas murid-muridnya, sebab permainan itu menunjukkan kemampuan mereka dalam berkolaborasi, berimajinasi, dan bereksperimen. Namun demikian, Nani tetap memberikan arahan agar mereka memahami aspek keselamatan.
“Saya bangga mereka kreatif, tapi saya juga mengingatkan bahwa api sekecil apa pun tetap harus diwaspadai. Bermain boleh, tapi harus tetap hati-hati,” tambahnya.
Salah satu siswi yang terlibat dalam permainan tersebut mengaku senang ketika gurunya tidak langsung memarahi mereka. “Kami cuma ingin mencoba masak-masakan seperti di rumah. Soalnya seru, dan kaleng bekas bisa dipakai jadi kompor,” ungkapnya sambil tersenyum.
Kepala Madrasah, Durotun Nafisah, mengapresiasi sikap edukatif Nani yang mampu melihat sisi positif dari aktivitas siswa sebelum memberikan bimbingan. “Guru yang baik bukan hanya mengawasi, tetapi mampu membaca kreativitas anak dan mengarahkannya dengan bijak. Ini contoh pembelajaran karakter yang sangat baik,” jelasnya.
Melalui kejadian kecil ini, terlihat bahwa kreativitas siswa dapat tumbuh kapan saja, termasuk pada jam istirahat. MIFABARA terus mendorong budaya bermain yang mendidik, aman, dan penuh nilai kerja sama, agar siswa tumbuh menjadi pribadi yang kreatif dan bertanggung jawab.(nas)







