KUA Purwanegara Beri Edukasi Tata Cara Bersuci di Tengah Krisis Air

Banjarnegara (Humas) — Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Purwanegara terus menguatkan pembinaan keagamaan di tengah masyarakat melalui kegiatan bimbingan penyuluhan. Salah satunya dilaksanakan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Purwanegara, Retno Purnawati, di Majelis Taklim Nasyiatul ‘Aisyiyah, Desa Gumiwang, Senin (14/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Madrasah Diniyah (Madin) tersebut diikuti sekitar 15 jemaah. Dalam kesempatan itu, Retno tidak hanya menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga mengajak jemaah berbagi pengalaman dan berdiskusi mengenai fenomena bencana kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah.

Pembahasan diarahkan pada bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapi kondisi kekeringan. Menurut Retno, kekeringan tidak hanya menjadi persoalan lingkungan dan ketersediaan air, tetapi juga dapat menjadi momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan, kesabaran, kepedulian, serta ikhtiar dalam menghadapi kesulitan.

“Kekeringan merupakan kondisi yang menguji kita. Sebagai seorang muslim, kita tidak boleh hanya mengeluh, tetapi harus tetap berikhtiar, bersabar, berdoa, dan bertawakal kepada Allah. Dalam kondisi sulit sekalipun, kewajiban kita kepada Allah tetap harus dilaksanakan,” ujar Retno.

Salah satu persoalan penting yang dibahas adalah tata cara bersuci ketika terjadi keterbatasan air. Retno menjelaskan bahwa Islam memberikan kemudahan kepada umatnya dalam menjalankan ibadah. Apabila air tidak tersedia atau penggunaannya dapat menimbulkan kemudaratan dalam kondisi tertentu, umat Islam dapat menggunakan tayamum sebagai bentuk keringanan dalam bersuci sesuai dengan ketentuan syariat.

“Jangan sampai keterbatasan air membuat kita meninggalkan salat. Islam memberikan jalan keluar dalam kondisi sulit. Ketika tidak mendapatkan air atau terdapat kondisi yang dibenarkan oleh syariat, tayamum dapat menjadi pengganti bersuci dengan air. Jadi, kewajiban salat tetap harus dijaga,” jelasnya.

Retno juga mengingatkan jemaah agar tidak menganggap kekeringan hanya sebagai persoalan yang harus dihadapi secara individual. Kepedulian terhadap sesama perlu ditumbuhkan, terutama kepada masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

Menurutnya, menghadapi kekeringan membutuhkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Umat Islam perlu berusaha menghemat penggunaan air, menjaga lingkungan, saling membantu, serta memperbanyak doa dan ibadah.

“Kondisi kekeringan seharusnya menjadi pengingat bagi kita untuk lebih menghargai nikmat air. Air adalah nikmat Allah yang sangat besar. Karena itu, mari kita gunakan dengan bijak, tidak berlebihan, peduli kepada sesama, dan tetap mendekatkan diri kepada Allah dalam keadaan apa pun,” pungkas Retno.

Melalui kegiatan bimbingan penyuluhan tersebut, diharapkan jemaah tidak hanya memperoleh pengetahuan keagamaan, tetapi juga memiliki kesiapan dalam menghadapi persoalan kehidupan dengan sikap yang sesuai dengan tuntunan Islam. 

(rp/azd)