Kemenag Banjarnegara Dorong GERIMIS Jadi Gerakan Pemberdayaan dan Kemandirian

Banjarnegara (Humas) – Kementerian Agama Kabupaten Banjarnegara turut memberikan sumbang saran dalam pembahasan Naskah Nota Kesepakatan (MoU) pelaksanaan Program Gerakan Ikhtiar Malu Mengaku Miskin (GERIMIS) yang digelar di Ruang Asisten Pemerintahan dan Kesra, Selasa (15/9/26).

Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari permohonan fasilitasi kerja sama dalam pelaksanaan program GERIMIS yang melibatkan sejumlah unsur pemerintah daerah dan instansi terkait. Pembahasan diarahkan untuk memperkuat substansi kerja sama sekaligus memastikan program dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Mewakili Kementerian Agama, hadir Khozin Amanullah dan Penyuluh Agama Islam Hendriyanto. Dalam forum tersebut, Kemenag memberikan masukan agar GERIMIS tidak hanya berorientasi pada pengurangan angka kemiskinan, tetapi juga menyentuh aspek perubahan pola pikir, ketahanan keluarga, penguatan mental, dan kemandirian masyarakat.

Hendriyanto menyampaikan bahwa kemiskinan tidak semestinya dipandang sebagai sebuah aib yang membuat seseorang merasa rendah diri. Menurutnya, semangat yang perlu dibangun adalah mendorong masyarakat untuk terus berikhtiar dan memiliki keberanian untuk memperbaiki kondisi kehidupannya.

“Kita tidak sedang mengajari masyarakat untuk malu menjadi miskin. Kita sedang mengajak masyarakat untuk tidak menyerah pada kemiskinan,” ungkap Hendriyanto.

Menurutnya, Penyuluh Agama Islam memiliki posisi strategis karena bersentuhan langsung dengan masyarakat melalui desa, masjid, majelis taklim, keluarga, dan berbagai kelompok masyarakat. Peran tersebut dapat dioptimalkan untuk memberikan penguatan nilai keagamaan mengenai ikhtiar, kerja keras, kemandirian, tanggung jawab, dan ketahanan keluarga.

Selain memberikan penguatan secara moral dan keagamaan, penyuluh juga dapat membantu menghubungkan masyarakat dengan berbagai potensi pemberdayaan yang tersedia.

“Bantuan jangan berhenti pada bagaimana masyarakat menerima bantuan. Yang lebih penting adalah bagaimana bantuan tersebut menjadi jembatan untuk bangkit. Kalau hari ini kita membantu masyarakat, harapannya ke depan mereka mampu mandiri, bahkan suatu saat bisa membantu orang lain,” jelasnya.

Hendriyanto juga mendorong agar potensi zakat, infak, sedekah, Unit Pengumpul Zakat (UPZ), BAZNAS, serta lembaga sosial keagamaan dapat disinergikan dengan program pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, berbagai sumber daya tersebut memiliki potensi untuk mendukung upaya penguatan ekonomi dan kemandirian masyarakat apabila dikelola secara terarah dan kolaboratif.

Sementara itu, Khozin Amanullah turut mengikuti pembahasan dan memberikan dukungan terhadap penguatan sinergi lintas sektor dalam pelaksanaan GERIMIS. Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur sangat penting agar program yang dirancang tidak berhenti pada dokumen kerja sama, tetapi benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Melalui sinergi pemerintah daerah, Kementerian Agama, dan berbagai unsur terkait, GERIMIS diharapkan mampu menghadirkan pendekatan yang lebih manusiawi dan berkelanjutan. Masyarakat tidak hanya dibantu untuk memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga didampingi agar memiliki kemampuan dan keberanian untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri.

“Target akhirnya bukan sekadar masyarakat keluar dari daftar penerima bantuan, tetapi bagaimana mereka memiliki kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri,” pungkas Hendriyanto.

Dengan kolaborasi lintas sektor tersebut, Program GERIMIS diharapkan dapat menjadi gerakan bersama yang tidak hanya mendorong perubahan perilaku, tetapi juga memperkuat pemberdayaan, ketahanan keluarga, dan kemandirian masyarakat Banjarnegara. 

(m/azd)