Banjarnegara – Program Tantangan Literasi Ramadhan di MIFABARA kembali menghadirkan karya yang penuh imajinasi dan makna mendalam. Pada hari ke-11, Fadellia Qofisha, siswi kelas 5D, menuliskan refleksi puitis tentang keindahan bulan suci dengan tema “Ramadhan adalah Lukisan Malam yang Paling Syahdu.”(6/3)
Dalam tulisannya, Fadellia menggambarkan suasana Ramadhan dengan perumpamaan yang begitu indah. “Ramadhan adalah lukisan malam yang paling syahdu, di mana kuas doa-doa kita melukis keindahan di atas kanvas ampunan Allah,” tulisnya dengan bahasa yang lembut dan menyentuh. Ia menggambarkan malam-malam Ramadhan sebagai waktu istimewa ketika hati terasa lebih dekat dengan Sang Pencipta.
Menurut Fadellia, setiap doa yang dipanjatkan ibarat goresan kuas yang membentuk lukisan harapan. Tangis dalam sujud, lantunan ayat Al-Qur’an, dan bisikan doa di sepertiga malam menjadi warna-warna indah yang menghiasi kanvas rahmat Allah SWT. “Semakin banyak kita berdoa dan beribadah, semakin indah lukisan Ramadhan yang kita buat,” tulisnya penuh harap.
Ia juga menuliskan bahwa Ramadhan mengajarkan manusia untuk menenangkan hati dan memperbaiki diri. Dalam keheningan malam, seseorang bisa menemukan kedamaian yang mungkin jarang dirasakan di hari-hari biasa. Bagi Fadellia, malam Ramadhan adalah ruang paling sunyi namun juga paling bermakna untuk berbicara dengan Allah SWT.
Wali kelas 5D memberikan apresiasi atas gaya bahasa puitis yang digunakan Fadellia. “Tulisan ini menunjukkan bahwa anak-anak tidak hanya belajar menulis, tetapi juga belajar merasakan makna spiritual Ramadhan dengan cara yang indah,” ungkapnya.
Kepala Madrasah MIFABARA, Durotun Nafisah, turut menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan literasi ini. “Karya Fadellia mengingatkan kita bahwa Ramadhan adalah bulan yang penuh keindahan ruhani. Jika malam-malamnya diisi dengan doa dan ibadah, maka hati akan dipenuhi cahaya ketenangan,” tuturnya.
Melalui literasi hari ke-11 ini, Fadellia Qofisha mengajak seluruh siswa untuk tidak menyia-nyiakan malam Ramadhan. Sebab di balik sunyinya malam, ada kesempatan besar untuk melukis kehidupan dengan doa, harapan, dan ampunan. Dan dari setiap goresan doa itu, semoga lahir lukisan takdir yang lebih indah di hadapan Allah SWT. (nas)







