Literasi Ramadhan Hari ke-12: Lala 5D Ajak Jadikan Ramadhan sebagai Momen Evaluasi Iman

Banjarnegara – Program Tantangan Literasi Ramadhan di MIFABARA terus menghadirkan refleksi mendalam dari para siswa. Pada hari ke-12, giliran Lala, siswi kelas 5D, yang menuliskan pesan penuh makna tentang hakikat ibadah puasa. Dalam karyanya, Lala menyampaikan bahwa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi momen terbaik untuk mengukur kualitas iman dan takwa.(6/3)

Dalam tulisannya, Lala menegaskan bahwa puasa sejatinya adalah proses pembelajaran hati. “Ramadhan adalah waktu terbaik untuk menguji kualitas iman dan takwa kita, bukan sekadar menahan lapar,” tulisnya. Ia menjelaskan bahwa ibadah puasa mengajarkan manusia untuk menahan diri dari hal-hal yang tidak baik, menjaga lisan, mengendalikan emosi, serta memperbanyak amal kebaikan.

Lebih jauh, Lala juga menyoroti pentingnya muhasabah atau evaluasi diri. Menurutnya, salah satu inti dari ibadah Ramadhan adalah melakukan perhitungan terhadap diri sendiri sebelum kelak dihisab oleh Allah SWT. “Evaluasi diri sebelum dihisab adalah pelajaran penting dari puasa. Kita belajar melihat kekurangan diri dan berusaha memperbaikinya,” tulisnya bijak.

Lala menambahkan bahwa keberhasilan Ramadhan tidak hanya terlihat dari seberapa lama seseorang berpuasa, tetapi dari perubahan sikap setelahnya. “Keberhasilan sejati diukur dari perubahan karakter, ketulusan niat, dan peningkatan ketaatan setelah Ramadhan berlalu,” tulisnya penuh makna. Ia berharap setiap orang dapat membawa semangat kebaikan Ramadhan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Wali kelas 5D mengapresiasi kedalaman pemikiran yang disampaikan Lala. “Tulisan ini menunjukkan bahwa anak-anak mulai memahami esensi Ramadhan secara lebih luas. Mereka tidak hanya menjalankan ibadah, tetapi juga merenungkan maknanya,” ungkapnya.

Kepala Madrasah MIFABARA, Durotun Nafisah, turut memberikan tanggapan positif. “Pesan yang disampaikan Lala sangat penting. Ramadhan adalah madrasah kehidupan yang melatih kejujuran, kesabaran, dan ketakwaan. Harapannya, nilai-nilai itu tetap hidup meski Ramadhan telah usai,” tuturnya.

Melalui karya literasi ini, Lala mengingatkan bahwa Ramadhan adalah ruang refleksi yang mendalam. Ia bukan sekadar ritual tahunan, melainkan kesempatan memperbaiki diri. Karena sejatinya, puasa yang berhasil adalah puasa yang mampu melahirkan pribadi yang lebih jujur, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Allah SWT. (nas)

Skip to content