Banjarnegara (Humas) – Program literasi unggulan MTs Negeri 1 Banjarnegara bertajuk Madtsansa Berpuisi kembali hadir dengan sajian yang menggugah hati. Pada episode terbaru yang dirilis Kamis (16/10), giliran Al-Asqolani Barley De Gama As, siswa kelas 7B unggulan Sastra dan Seni, yang tampil membacakan senandika berjudul “Surat untuk Ibu” karya Usman Arrumy, sang penyair romansa Indonesia.
Karya yang penuh kehangatan dan renungan ini menggambarkan dialog batin seorang anak kepada ibunya. Melalui deklamasi Barley yang penuh penghayatan, nuansa cinta dan kerinduan terhadap sosok ibu tersampaikan begitu dalam. Dalam video berdurasi sekitar tiga menit tersebut, Barley tampil dengan ekspresi tenang namun sarat emosi, mengajak penonton merenungkan makna kasih sayang seorang ibu yang tak pernah lekang oleh waktu.
Wakil Kepala Madrasah urusan Kesiswaan Ikhsanudin mengapresiasi penampilan Barley yang dinilai mampu menampilkan makna senandika dengan penuh perasaan.
“Madtsansa Berpuisi bukan hanya wadah untuk menunjukkan kemampuan literasi dan seni, tetapi juga menjadi ruang ekspresi jiwa bagi peserta didik. Barley berhasil menyampaikan pesan batin dari karya ‘Surat untuk Ibu’ dengan ketulusan yang menyentuh. Saya bangga karena anak-anak kita semakin matang dalam menjiwai setiap karya sastra yang mereka tampilkan,” ujar Ikhsanudin.
Lebih lanjut, Ikhsanudin menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya madrasah dalam mengembangkan karakter siswa melalui sastra dan seni.
“Sastra mengajarkan rasa, empati, dan kedalaman berpikir. Lewat program ini, kami berharap siswa tak hanya pandai membaca puisi, tapi juga memahami nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung di dalamnya,” imbuhnya.
Sementara itu, wali kelas Barley, Nabila Kirana, turut memberikan apresiasi kepada siswanya. Menurutnya, Barley merupakan sosok yang rajin dan berani mengeksplorasi sisi emosional dalam membaca karya sastra.
“Saya sudah melihat bagaimana Barley mempersiapkan diri untuk performa ini. Ia membaca karya Usman Arrumy berkali-kali, mencoba memahami makna di balik setiap kalimat. Hasilnya terlihat jelas dalam performanya—tidak hanya membaca, tetapi merasakan,” tutur Nabila.
Nabila juga menilai bahwa karya Surat untuk Ibu sangat tepat dipilih karena mengandung pesan universal tentang kasih dan pengorbanan seorang ibu.
“Saya yakin siapa pun yang mendengar pembacaan Barley akan tersentuh. Karya ini sederhana, tapi maknanya dalam sekali,” tambahnya.
Dalam keterangannya, Barley mengungkapkan bahwa ia memilih senandika karya Usman Arrumy karena merasa dekat dengan makna yang terkandung di dalamnya.
“Saat pertama kali membaca ‘Surat untuk Ibu’, saya langsung teringat mama di rumah. Setiap kata dalam karya ini seperti menggambarkan rasa rindu yang kadang sulit diungkapkan. Saya ingin setiap orang yang menonton juga bisa merasakan hal itu,” ujarnya dengan senyum malu-malu.
Barley juga menuturkan bahwa membawakan senandika berbeda dengan membaca puisi biasa karena menuntut penjiwaan yang lebih dalam.
“Kalau membaca puisi, kita fokus pada irama dan diksi, tapi dalam senandika, kita benar-benar harus menghayati cerita dan perasaan tokoh di dalamnya. Rasanya seperti sedang berbicara langsung kepada seseorang yang sangat kita rindukan,” imbuhnya.
Salah satu penonton sekaligus kakak kelas Barley, Raisa Alin dari kelas 8B, turut menyampaikan kesannya setelah menyaksikan video tersebut di kanal media sosial madrasah.
“Saya hampir meneteskan air mata waktu menonton. Cara Barley membacakan senandika itu benar-benar tulus, seperti sedang menulis surat untuk ibunya sendiri. Saya rasa karya seperti ini bisa membuat kita semua lebih menghargai sosok ibu,” ujar Raisa dengan nada haru.
Program Madtsansa Berpuisi sendiri merupakan kegiatan literasi unggulan di MTs Negeri 1 Banjarnegara yang menampilkan karya-karya sastra pilihan melalui pembacaan puisi, monolog, maupun senandika oleh para siswa kelas unggulan Sastra dan Seni. Program ini telah berjalan secara rutin dan menjadi salah satu bentuk implementasi Madrasah Literasi yang digagas sekolah untuk menumbuhkan kecintaan terhadap dunia kata dan rasa.
Penampilan Barley kali ini menambah deretan konten Madtsansa Berpuisi yang selalu dinanti warga madrasah dan masyarakat luas. Melalui suara dan ekspresi para siswa, setiap karya yang dibacakan menjadi pengingat bahwa sastra bukan hanya kumpulan kata, tetapi jembatan antara perasaan dan kehidupan.
“Kami berharap Madtsansa Berpuisi terus berkembang dan melahirkan generasi muda yang peka rasa, cerdas literasi, dan berbudaya,” tutup Ikhsanudin. (Lin/La)







