Kementerian Agama saat ini merayakan ulang tahun atau yang sering dikenal dengan Hari Amal Bhakti (HAB). Berdiri pada 3 Januari 1946, Kemenag kini memasuki usia pengabdian ke-79. Sesuai namanya, ada image keagamaan yang melekat pada kementerian ini.
“Ikhlas Beramal” melekat dalam logo Kementerian Agama. Logo lama berbentuk bola dunia dengan diapit 17 kuntum kapas dan 45 biji padi. Kata “Ikhlas Beramal” tertempel di logo tersebut, dengan tulisan “ikhlas” berada di atas dan “beramal” di bawah. Logo baru Kemenag ditetapkan melalui KMA Nomor 717 Tahun 2006. Logo baru tersebut berbentuk perisai lima sudut dengan kata “Ikhlas Beramal” dalam satu barisan.
Identitas dengan dua kata yang sangat sederhana namun mengandung makna dalam luar biasa.
Makna Ikhlas (ketulusan) adalah sikap murni dalam tingkah laku dan perbuatan semata-mata demi memperoleh ridha dan perkenan Tuhan, bebas pamrih lahir dan batin, tertutup maupun terbuka. Dengan sikap ikhlas seperti ini, orang akan mampu mencapai tingkat tinggi nilai karsa batin dan karya lahirnya, baik pribadi maupun sosial. Gelar Mukhlisun (kumpulan orang orang yang Ikhlas) menjadi gelar yang tertinggi disisi Allah SWT.
Arti dasar dari kata ikhlas adalah murni, tidak tercemari oleh sesuatu yang lainnya. Dalam Al-Quran kata ikhlas yang merujuk pada susu murni dikenal dengan istilah ”labanan khalisahan”. Menurut para Mufasir, yang dimaksud dengan labanan khalishan adalah susu murni yang terdapat di antara (saluran) kotoran dan darah, tapi tidak tercampur oleh keduanya, baik bau, bentuk, maupun warnanya.
Dalam Al-Quran, turunan (derivasi) dari akar kata ikhlas juga mengandung beberapa pengertian, antara lain: pengkhususan (QS.Al-Baqarah : 94, Al-An’am : 39, Al-A’raf : 32, Al-Ahzab : 50); pilihan (QS. Yusuf : 24, 54, Maryam : 51); menyendiri (QS. Yusuf : 80); dan kesucian (QS. Shad : 46).
Ungkapan yang paling banyak digunakan dalam Al-Quran mengenai ajaran spiritualitas ikhlas ini adalah menggunakan bentuk mashdar dari akar kata ikhlas, yaitu mukhlishan atau mukhlisin yang sering digandengkan dengan istilah agama (mukhlisahan lahu al-diin atau mukhlishin lahu al-diin). Dalam konteks ini, ikhlas diartikan sebagai memurnikan ketaatan kepada Allah dalam menjalankan agama. Misalnya, perintah untuk memurnikan ketaatan kepada Allah dalam menjalankan agama, seperti dijelaskan Al-Qur’an dalam surat Al-Zumar : 11,14; Al-Mukmin : 14 dan Al-Bayyinah : 5.
Ikhlas atau ketulusan ini merupakan ajaran sangat penting dalam spiritualitas Islam karena menentukan kualitas amal seseorang. Tanpa keikhlasan atau ketulusan, amal pengabdian atau pengkhidmatan apapun tidak akan memiliki makna. Ibnu Hajar Al-Asqalani sangat bagus menggambarkan perumpamaan ikhlas (kalimat yang baik) dengan pohon yang baik. Menurut Ibnu Hajar, pohon ikhlas itu tumbuh dalam akar keimanan yang kuat; dahannya adalah mengikuti perintah dan menjauhi larangan agama; daunnya adalah mementingkan keutamaan (al-khair) dan buahnya adalah amal ketaatan.
Ikhlas Beramal bagi Aparat Kementerian Agama adalah pelayan masyarakat (khadimul ummah) dalam segala hal yang berkaitan dengan kehidupan keberagamaan. Konsekuensi dari statusnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), menuntut pengabdian dan pelayanan yang optimal kepada masyarakat secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan status sosial, suku bangsa, agama, pendidikan dan sebagainya.
Masyarakat akan merasakan kepuasan dalam bentuk pelayanan yang diberikan oleh Aparat Kementerian Agama jika benar-benar mengaktualisasikan makna Ikhlas Beramal. Pelayanan atau bimbingan yang diberikan tidak semestinya disertai dengan embel-embel atau motivasi ekonomi, penghargaan, pujian, dan lain-lain. Sekali beramal, maka laksanakanlah dengan kesungguh-sungguhan dan keikhlasan. Inilah yang melahirkan insan insan berintegritas memberikan layanan terbaik bagi umat dan masyarakat.
Momentum HAB ke 79 yang bertemakan “Umat Rukun Menuju Indonesia Maju” menjadi tekad seluruh warga Kementerian Agama melahirkan layanan terbaik kepada umat, memunculkan jiwa jiwa integritas akan lahirnya kemajuan dan kemakmuran untuk semesta.
Berbagai kajian ilmiah mengenai manusia telah mengukuhkan bahwa manusia yang “reach out,” mengulurkan tangannya untuk menolong orang lain, adalah orang yang bahagia. Jika suatu kali kita berjumpa orang yang memerlukan pertolongan, kemudian kita menolongnya, sepintas lalu nampak seperti perbuatan kita adalah untuk kepentingan orang tersebut. Tetapi, dalam perenungan lebih mendalam, seuntung-untungnya orang yang kita tolong itu, tetap masih beruntung dan berbahagia kita sendiri, justru karena kita mampu menolong. Lebih lanjut, karena perasaan bahagia itu, kita akan mendapatkan dunia ini terasa lapang dan luas untuk kita, disebabkan oleh lapang dan luasnya dada (jiwa) kita.
Sesuatu yang akan “dilihat” itu adalah hasil kerja atau prestasi, yang memang akan menjadi inti kualitas seseorang. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Najm : 39, “Dan tidaklah manusia itu mempunyai sesuatu kecuali yang dia usahakan.”
Tetapi yang menjadi persoalan adalah jika kita kehilangan kesejatian dan ketulusan dalam amal perbuatan kita, karena menyelinap dalam hati kita keinginan mendapat pujian orang lain atau motivasi keduniaan lainnya. Dalam keadaan demikian, kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari amal perbuatan itu. Maka untuk menjadi tulus dan sejati itu kita harus berjuang terus menerus (mujahadah) melawan kecenderungan merasa diri sendiri paling benar.
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banjarnegara pada momen HAB ke 79 tahun 2025 memberikan warna baru dengan predikat yang disandangnya sebagai Kantor yang memiliki predikat Zona Integritas Wilayah Bebas Korupsi (ZI WBK) yang disematkan oleh Kementerian PAN RB setelah melalui proses panjang evaluasi dan penilaian. ZI WBK bukan hanya gelar yang bergengsi namun dibalik itu ada implementasi nilai nilai Keikhlasan yang terus digelorakan dan diamalkan seperti Motto “IKHLAS BERAMAL”
Dimulai dari Integritas diri setiap Pejabat dan ASN untuk menolak Gratifikasi dan Korupsi telah melahirkan semangat “INYONG WIS DIGAJI ORA USAH DIAMPLOPI” sebagai Implementasi nilai nilai Keikhlasan dalam bekerja dan beramal.
Semoga momentum HAB ke-79 Kementerian Agama ini bisa membentuk insan/aparat Kemenag “IKHLAS BERAMAL” dalam setiap langkah amal dan perbuatan bukan “BERAMAL SEIKHLASNYA”, Pribadi-pribadi yang GEMEBYAR (Gesit Moderat Berdaya Saing Akuntabel Responsif) dalam memberikan pelayanan serta menjadikan intansi Kementerian Agama sebagai teladan yang baik (uswah hasanah) bagi instansi-intansi yang lain. Amin. Wallahu A’lam Bishawab
Banjarnegara, 3 Januari 2024
Ahmad Solikhun, S.Kom, MAP
(Perencana Ahli Muda Kantor Kementerian Agama Kab Banjarnegara/Finalis Insan UPG KPK RI Tahun 2024)

