Banjarnegara (Humas) – Tantangan pengasuhan di era digital menjadi perhatian serius Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pagentan. Menyikapi maraknya kasus pergeseran etika dan adab anak akibat paparan gawai, KUA Pagentan mengambil langkah proaktif dengan menyelenggarakan Bimbingan Penyuluhan (Bimluh) yang menyasar langsung lingkungan pendidikan anak usia dini (PAUD).
Bertempat di aula KB Pertiwi Plumbungan pada Kamis (20/11/2025), kegiatan ini melibatkan 24 orang tua atau wali siswa, menghadirkan Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Pagentan, M. Syaiful Abidin. Topik yang diangkat, “Pengaruh Gawai Terhadap Etika Anak Kepada Orang Tua”, seolah menjawab kegelisahan kolektif para orang tua di Banjarnegara.
Syaiful Abidin membuka sesi penyuluhan dengan menekankan kembali konsep dasar pengasuhan dalam Islam, yaitu menjadikan orang tua sebagai “Madrasah Ula”—sekolah pertama dan utama bagi anak. Ia menegaskan bahwa gawai, sebagai produk kemajuan teknologi, bukanlah musuh yang harus dijauhi, melainkan alat yang harus dikelola dengan bijak. Masalah muncul ketika alat ini merampas waktu interaksi, mematikan empati, dan mengikis rasa hormat anak terhadap orang tua.
“Teknologi itu keniscayaan. Kita tidak bisa melarangnya. Tetapi kita bisa menjadi ‘Filter’ yang membatasi dampaknya pada akhlak anak,” ujar Syaiful di hadapan peserta. Ia menggarisbawahi pentingnya teladan digital dari orang tua. Anak-anak yang melihat orang tuanya asyik dengan gawai akan cenderung meniru, menganggap interaksi digital lebih penting daripada komunikasi tatap muka dan bakti.
Inti pesan dari KUA Pagentan adalah ajakan untuk menciptakan keseimbangan etis-teknologis. Orang tua didorong untuk menyusun regulasi gawai yang ketat, meliputi:
- Batasan Waktu: Menentukan durasi spesifik, tidak melebihi batas yang disarankan untuk usia dini.
- Pengawasan Konten: Memastikan anak mengakses materi edukatif dan tidak mengandung unsur negatif.
- Zona Bebas Gawai: Menetapkan area atau waktu tertentu (seperti saat makan, ibadah, atau berkumpul keluarga) sebagai zona wajib bebas gawai.
Pihak sekolah menyambut baik inisiatif ini. Turipah, Wakil Kepala KB Pertiwi Plumbungan, menyampaikan apresiasi yang mendalam. “Isu gawai ini adalah tantangan peradaban bagi kami. Kami berharap orang tua dapat pulang dengan kesadaran baru bahwa etika dan sopan santun adalah fondasi masa depan anak. Jika fondasi ini rapuh karena gawai, maka masa depan anak-anak kita dalam bahaya,” tutur Turipah.
Kegiatan bimbingan ini tidak hanya diisi dengan ceramah satu arah, tetapi juga sesi diskusi interaktif di mana orang tua berbagi pengalaman dan mencari solusi praktis untuk tantangan pengasuhan di era digital. KUA Pagentan dan KB Pertiwi Plumbungan berkomitmen untuk terus bersinergi, memastikan generasi Banjarnegara tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi yang utama, berakhlak mulia dan berbakti kepada orang tua.
(msa/ azd)







