Banjarnegara (Humas) – Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan menunjukkan komitmennya dalam memperdalam literasi spiritual masyarakat melalui kegiatan bimbingan penyuluhan agama yang inovatif. Bekerja sama dengan Majelis Taklim (MT) ‘Aisyiyah Ranting Metawana, KUA Pagentan sukses menggelar sebuah kajian reflektif di Teras Masjid Baiturrahman Metawana pada hari Jumat (5/12/2025). Acara yang dihadiri oleh 31 anggota majelis taklim ini berfokus pada pemahaman yang lebih dalam mengenai doa yang paling fundamental dalam Islam: permohonan petunjuk jalan yang lurus dalam Surah Al-Fatihah.
Penyuluh Agama Islam KUA Pagentan, M. Syaiful Abidin, memimpin sesi kajian dengan tema yang memicu diskusi menarik: “Mengapa Seorang Muslim, yang Telah Menerima Islam, Masih Terus Memohon Ihdinash Shiratal Mustaqim (Ya Allah, Tunjukkanlah Kami Jalan yang Lurus)?”
Syaiful Abidin dengan lugas membantah anggapan bahwa mengulang doa tersebut dalam setiap salat menunjukkan keraguan atau status tersesat bagi seorang Muslim. Menurutnya, pemahaman ini kurang tepat. Sebaliknya, ia memaparkan bahwa doa tersebut merupakan pilar teologis yang menegaskan dua konsep penting dalam Islam: kebutuhan abadi manusia dan sifat hidayah yang bertingkat serta berkelanjutan.
“Permintaan Ihdinash Shiratal Mustaqim adalah pengakuan tulus seorang hamba bahwa kebutuhan akan bimbingan Allah tidak pernah berakhir,” jelas M. Syaiful Abidin.
Ia menekankan bahwa hidayah atau petunjuk bukanlah hadiah sekali jadi. Seseorang yang telah memeluk Islam (hidayah dasar) tetap harus memohon agar hidayahnya dipertahankan dari segala penyimpangan (keistiqamahan), ditingkatkan kualitasnya, dan diperluas penerapannya dalam segala dimensi kehidupan, mulai dari bermuamalah hingga beribadah. Doa ini berfungsi sebagai mekanisme pemeliharaan spiritual agar seorang Muslim senantiasa berada pada ‘jalan raya’ kebenaran yang diridai Allah Swt.
Kajian ini disambut hangat oleh para peserta yang merasa mendapatkan pencerahan signifikan. Rismawati, Ketua MT ‘Aisyiyah Ranting Metawana, menyampaikan rasa terima kasihnya.
“Kami sering membaca Al-Fatihah, namun penjelasan Bapak Syaiful benar-benar mengubah cara pandang kami. Ini bukan sekadar permintaan, tapi sebuah komitmen untuk menjaga dan meningkatkan kualitas keimanan kami secara terus-menerus,” ujar Risma. “Kami kini melihat menjadi Muslim yang baik adalah sebuah perjalanan progresif, bukan tujuan yang sekali dicapai.”
KUA Pagentan berharap kegiatan-kegiatan berorientasi pendalaman makna seperti ini dapat menjadi agenda utama di Majelis Taklim. Tujuannya adalah mendorong transisi dari melafalkan doa secara lisan menjadi internalisasi makna yang memicu perbaikan diri dan konsistensi ibadah yang lebih baik. Antusiasme peserta terlihat jelas dalam sesi tanya jawab yang berlangsung intens, menutup kegiatan yang sarat manfaat ini.
(msa/ azd)







