Menyemai Benih Literasi di MI Al Fatah Parakancanggah (MIFABARA), Berawal dari Kunjungan ke Perpusda Kabupaten Banjarnegara

Banjarnegara – Menyemai benih literasi tidak cukup hanya dilakukan di ruang kelas, tetapi juga perlu membuka cakrawala di luar madrasah. Hal inilah yang menginspirasi dua guru MI Al Fatah Parakancanggah (MIFABARA), Nani dan Wahyu, untuk melakukan kunjungan ke Perpustakaan Daerah (Perpusda) Banjarnegara pada Selasa (28/10).

Kunjungan tersebut menjadi wujud nyata semangat guru dalam menghidupkan budaya literasi di lingkungan madrasah. Tidak hanya sekadar membaca literatur, kedua guru ini juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdialog dengan petugas Perpusda. Mereka berkonsultasi tentang cara menumbuhkan kesadaran membaca pada anak-anak agar kegiatan membaca tumbuh menjadi kebutuhan, bukan sekadar kewajiban.

“Kami ingin belajar bagaimana membuat anak-anak mencintai buku dengan kesadaran sendiri. Membaca seharusnya menjadi kebiasaan yang menyenangkan, bukan beban,” ujar Nani, wali kelas 5D yang aktif menggerakkan berbagai kegiatan literasi di madrasah.

Sementara itu, Wahyu mengambil langkah konkret dengan mendaftarkan beberapa siswanya menjadi anggota Perpusda. Ia berharap para siswa tersebut bisa menjadi contoh bagi teman-temannya dan menjadi duta literasi di madrasah. “Kalau mereka sudah terbiasa berkunjung ke perpustakaan dan menemukan buku yang mereka sukai, semoga mereka bisa menularkan semangat itu kepada yang lain,” ungkapnya penuh harap.

Petugas Perpusda Banjarnegara turut memberikan apresiasi atas inisiatif para guru. Menurutnya, guru memiliki peran penting dalam membangun budaya baca di kalangan generasi muda. “Kami senang sekali melihat guru-guru seperti Nani dan Wahyu datang tidak hanya untuk membaca, tapi juga mencari cara agar anak-anak cinta literasi. Itu langkah yang luar biasa,” ujarnya.

Kepala Madrasah Durotun Nafisah menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menilai, gerakan literasi di madrasah harus berakar dari kesadaran guru. “Guru yang gemar membaca akan menularkan semangat itu kepada siswanya. Langkah ini menjadi contoh nyata bahwa literasi bukan sekadar program, tetapi budaya yang harus terus disiram agar tumbuh subur,” tuturnya.

Dari kunjungan sederhana itu, MIFABARA berharap lahir generasi pembelajar yang haus akan ilmu dan menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Seperti benih yang disemai dengan cinta, literasi di madrasah ini perlahan tumbuh, berawal dari satu langkah kecil menuju perubahan besar.(nas)

Skip to content