Banjarnegara – MTs Negeri 1 Banjarnegara kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan karakter peserta didik melalui gelaran Panen Karya Projek Penguatan Profil Pelajar Rahmatan lil ‘Alamin (P5RA) yang resmi dibuka pada Selasa (9/12). Mengusung tema besar Bangun Jiwa Raga dan topik Membangun Remaja Indonesia Berencana dan Anti Pernikahan Dini (MARI BERANI), kegiatan ini menjadi ruang ekspresi bagi ratusan siswa untuk menampilkan kreativitas sekaligus menyuarakan kepedulian terhadap isu sosial yang mengancam masa depan generasi muda.
Pembukaan berlangsung meriah di lapangan indoor Madtsansa dengan menghadirkan beragam penampilan yel-yel dan drama bertema anti pernikahan dini. Seluruh kelas dari berbagai jenjang turut menjadi peserta, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap program P5RA yang selama ini menjadi bagian dari penguatan karakter di madrasah tersebut.
Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, dalam sambutannya menekankan bahwa isu pernikahan dini bukan semata isu keluarga, tetapi isu pendidikan dan masa depan bangsa.
“P5RA bukan hanya tentang berkarya, tetapi membangun kesadaran. Tema MARI BERANI ini mengajak kita semua untuk berani berkata tidak pada pernikahan dini. Anak-anak harus tumbuh, belajar, bermimpi, dan mempersiapkan masa depan dengan matang,” ujarnya tegas.
Beliau juga mengapresiasi kerja keras seluruh tim P5RA yang selama beberapa pekan telah membimbing para peserta didik dalam proses riset, diskusi, hingga penyusunan karya.
“Saya bangga dengan kreativitas anak-anak Madtsansa. Panen karya ini bukti bahwa mereka tidak hanya cerdas, tetapi juga peka terhadap realitas sosial,” tambahnya.
Ketua Tim P5RA MTs Negeri 1 Banjarnegara, Hani Farkhatun, menyampaikan bahwa topik ini dipilih karena relevan dengan kehidupan remaja yang rentan terhadap pengaruh dan keputusan yang terburu-buru.
“Pernikahan dini masih menjadi persoalan di banyak daerah, termasuk di Banjarnegara. Melalui P5RA, kami ingin memberikan edukasi yang lebih menyentuh, bukan hanya lewat materi di kelas, tetapi melalui praktik, drama, yel-yel, dan aktivitas kreatif lainnya,” jelasnya.
Ia berharap kegiatan ini dapat membekali siswa dengan pemahaman yang benar tentang perencanaan masa depan dan pentingnya menjaga kesehatan fisik, mental, dan emosional.
“Ketika anak-anak memahami nilai-nilai ini dengan cara yang menyenangkan, pesan moralnya akan jauh lebih kuat tertanam,” imbuhnya.
Salah satu fasilitator P5RA, Hj. Asih Wijayanti, menyoroti proses pembelajaran yang terjadi di balik pembuatan karya para siswa. Ia bercerita bahwa setiap kelas melakukan observasi dan diskusi mendalam mengenai risiko pernikahan dini, mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga psikologis.
“Kami tidak hanya mengajari mereka membuat drama, tetapi juga bagaimana memahami isu ini secara komprehensif. Ketika mereka menuliskan naskah, mereka harus tahu fakta dan dampaknya. Inilah pembelajaran bermakna yang ingin kami hadirkan,” ungkapnya.
Menurutnya, perubahan pola pikir remaja harus dimulai dari ruang pendidikan.
“Madrasah punya peran besar dalam membangun generasi yang kritis dan berani mengambil keputusan bijak. MARI BERANI adalah ajakan untuk menjaga diri dan menjaga masa depan.”
Kegiatan panen karya ini juga mendapat respons antusias dari siswa. Amar, siswa kelas 9G yang menjadi salah satu pemeran utama drama, mengaku bangga dapat ikut menyuarakan pesan anti pernikahan dini.
“Awalnya saya canggung, tapi setelah memahami tema ini, saya merasa ikut punya tanggung jawab. Drama kami menggambarkan bagaimana masa depan seorang remaja bisa hancur karena keputusan menikah terlalu muda,” tutur Amar.
Ia berharap penonton mendapatkan pelajaran dari cerita yang disampaikan kelompoknya.
Sementara itu, Amanda, siswi kelas 8H, menceritakan pengalaman menariknya saat merancang yel-yel bertema anti pernikahan dini.
“Kami ingin membuat yel yang semangat, mudah diingat, dan mengajak teman-teman untuk fokus pada cita-cita dulu. Masih panjang perjalanan kami, jadi jangan tergoda menikah di usia muda,” ucap Amanda penuh percaya diri.
Panen Karya P5RA Madtsansa dengan tema MARI BERANI tahun ini diharapkan menjadi momentum penting dalam membentuk remaja yang lebih sadar, tangguh, dan mampu membangun masa depan dengan perencanaan yang baik. Melalui seni, ekspresi, dan kreativitas, pesan penolakan terhadap pernikahan dini disampaikan dengan cara yang lebih menyentuh, mendidik, dan membekas di hati seluruh peserta dan penonton. (Lin)







