Banjarnegara (Humas) – Dua nominator penyuluh agama Islam yang menjadi finalis dalam Penghargaan Nasional 2024 tiba di Ibukota untuk mengikuti acara seleksi yang akan berlangsung hingga tanggal 22 Agustus 2024 di El Hotel Klapa Gading Jakarta Senin (19/8/2024). Kedua tokoh ini adalah Imam Khambali dari Kecamatan Mandiraja dan Sugeng dari Kecamatan Purwanegara, masing-masing bersaing dalam kategori pendampingan kelompok rentan dan pelestarian lingkungan.
Imam Khambali, yang dikenal dengan dedikasinya dalam pendampingan kelompok rentan di Kecamatan Mandiraja, mengungkapkan kegembiraannya dalam menghadiri acara ini. “Saya sangat bersyukur dan terhormat dapat menjadi bagian dari seleksi ini. Tugas kami sebagai penyuluh agama tidak hanya mengajar, tetapi juga mendampingi dan memberikan dukungan kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar Imam Khambali dengan semangat.
Sugeng, penyuluh agama Islam yang fokus pada pelestarian lingkungan di Kecamatan Purwanegara, juga menyampaikan harapannya dalam acara seleksi ini. “Pelestarian lingkungan merupakan bagian dari ajaran agama Islam yang harus kita lakukan untuk menjaga keberlangsungan hidup di bumi ini. Saya berharap dapat memberikan kontribusi positif dalam upaya pelestarian lingkungan di masyarakat,” kata Sugeng dengan tekad yang kuat.
Berangkat dari stasiun tawang menggunakan kereta luxury mereka didampingi oleh Salabi dan Hamid dari Kantor Wilayah Jawa Tengah. Mereka berencana untuk memanfaatkan waktu di Ibukota dengan mengunjungi beberapa tempat penting. Hari ini, mereka menyempatkan diri untuk mengunjungi Monumen Nasional (Monas), simbol kebanggaan nasional yang merefleksikan sejarah dan keberagaman budaya Indonesia. Selanjutnya, mereka melanjutkan perjalanan spiritual mereka ke Masjid Istiqlal.
Acara seleksi Penghargaan Penyuluh Agama Islam Award tingkat Nasional tahun 2024 ini diharapkan dapat menemukan tokoh yang tidak hanya berprestasi dalam bidangnya, tetapi juga memiliki dampak yang signifikan dalam membangun karakter dan nilai-nilai keagamaan di masyarakat. Para finalis akan dinilai berdasarkan kriteria yang ketat, termasuk inovasi dalam pendekatan penyuluhan, dampak sosial, dan kontribusi terhadap pembangunan keagamaan dan sosial di Indonesia. (M)







