Banjarnegara – Jum’at pagi, 7/11, ruang pertemuan MI Al Fatah Parakancanggah (MIFABARA) tampak lebih ramai dari biasanya. Sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, seluruh guru dan tenaga kependidikan berkumpul untuk mengikuti pembinaan langsung dari Kepala Madrasah, Durotun Nafisah. Kegiatan yang berlangsung penuh kekhidmatan itu menjadi momen refleksi bersama bagi para pendidik di lingkungan MIFABARA.
Dalam arahannya, Durotun menekankan pentingnya rasa syukur dalam menjalani profesi sebagai guru. Menurutnya, menjadi guru adalah anugerah besar karena melalui ilmu yang diajarkan, pahala akan terus mengalir meski sang guru telah tiada. “Kita bersyukur karena Allah memilih kita untuk menjadi penyampai ilmu. Ilmu yang bermanfaat akan menjadi amal jariyah yang tidak terputus. Maka berbahagialah menjadi guru,” tuturnya dengan penuh semangat.
Beliau juga mengingatkan agar setiap guru tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Jadilah teladan bagi siswa dan masyarakat. Ilmu yang kita ajarkan akan lebih bermakna bila kita sendiri mencontohkannya dalam perilaku dan sikap,” lanjutnya.
Apa yang disampaikan beliau sesuai dengan ayat Al Qur’an suroh Al Mujadalah ayat 11 dimana ayat ini menunjukkan kedudukan tinggi bagi orang yang berilmu, yang juga mencakup para guru. Kedudukan tersebut dicapai melalui pengamalan ilmu, bukan hanya sekedar memilikinya.
Pembinaan tersebut disambut antusias oleh para guru. Salah satu guru, Avi, menyampaikan kesannya bahwa nasihat kepala madrasah menjadi penyemangat di tengah rutinitas mengajar. “Kami merasa tersentuh dan diingatkan kembali akan niat awal kami menjadi guru, yakni beribadah dan berbagi ilmu dengan ikhlas,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Fatimah, guru kelas 4, yang menilai kegiatan pembinaan seperti ini sangat penting untuk memperkuat motivasi dan kebersamaan antar guru. “Kami jadi lebih bersemangat dan termotivasi untuk terus belajar serta menjadi teladan bagi siswa,” katanya.
Dengan suasana yang penuh kehangatan dan kekeluargaan, kegiatan pembinaan tersebut menutup pagi di MIFABARA dengan pesan moral yang kuat: menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan ladang amal dan keteladanan yang harus terus dijaga.(nas)







