Banjarnegara (Humas) – Rengginang atau yang biasa dikenal dengan nama ampyang merupakan salah satu makanan khas kota Banjarnegara yang terbuat dari beras ketan. Siswa kelas 2 MI Ma ’arif Al Falah Joyokusumo (MIMAU) melaksanakan praktik mata pelajaran Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (P5P2RA) dengan materi memasak makanan khas Banjarnegara yang sehat dan bergizi pada Jumat lalu (14/2).
Pada ujian praktik P5P2RA ini, siswa diminta memperhatikan proses penyajian makanan/ hidangan sehat dan bergizi. Berjumlah 53 siswa dari 2 kelas yaitu kelas 2A dan kelas 2B yang aktif mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut.
Pukul 09.30 WIB praktik menggoreng rengginang dimulai dan kelaspun menjadi cukup ramai anak-anak yang merasa ingin tahu prosesnya. Rasa ingin tahu yang sangat tinggi membuat mereka terlihat sangat antusias ketika melihat proses menggoreng dimulai. Celotehan lucu, banyak tanya bersahutan meramaikan suasana. Kebingungan pun dan rasa penasaran juga mewarnai praktik pada saat itu. Sebab semua anak belum tau proses menggoreng rengginang, menurut mereka baru pernah merasakan namun belum tau prosesnya.
Pada praktik menggoreng ini tentunya tetap memperhatikan keamanan anak-anak, karna itu anak-anak diarahkan cukup melihat dari jarak jauh saja. Mengingat anak kelas 2 rasa ingin tahunya masih sangat tinggi. Dan karnanya dihimbau untuk jangan mempraktikkannya sendiri.
Jika mau mempraktikkan sendiri himbaunya harus ada pendampingan dari orang tua atau orang dewasa. Selain hal tersebut juga disampaikan bahwa menyajikan makanan pun harus dengan menjaga kebersihan, agar makanan yang kita sajikan layak dikonsumsi demi menjaga kesehatan tubuh kita.
“belajar praktik ini sangat menyenangkan, dan ternyata rengginang itu rasanya enak, nanti pulang sekolah aku akan mempraktikkan bersama ibu,” celoteh Jalal salah satu siswa kelas 2B berpendapat dihadapan teman-temannya.
Menggoreng rengginang memang tidak dilakukan murid di madrasah tersebut. Namun, dilakukan dan dibimbing oleh guru pendamping yaitu Rosi Lisdiana wali kelas 2B dan Nuri Fatimah wali kelas 2A. Pasalnya, para siswa masih terlalu kecil untuk mengerjakan sendiri, dan mungkin masih belum mampu mengerjakan semuanya.
Meski begitu, melalui praktik tersebut dapat memberikan pembelajaran positif, yaitu mengetahui proses menyajikan rengginang karena sebelum dimulai Nuri pun menjelaskan proses awal dari bahannya, proses membuatnya hingga hasil pengeringan, baru selanjutnya proses penyajian.
Sesuai dengan yang sudah Nuri sampaikan, ujian praktik ini bertujuan agar siswa dapat bekerja sama dan merasakan betapa repotnya orang tua setiap hari menyiapkan makanan dan hidangan, sekaligus agar siswa mengetahui prosesnya salah satu makanan khas Banjarnegara ini.
“Semoga dari praktik ini menambah ilmu baru untuk kalian semua agar menghargai makanan, karna kita dapat menikmati makanan dengan bersusah payah menyiapkan dan prosesnya tidak sebentar. Ingat pesan ustazah bahwa untuk mendapatkan dan menikmati sesuatu itu kita harus berusaha, berjuang untuk mendapatkan, jadi mari nikmati prosesnya agar kita dapat menikmati hasilnya dengan baik,” jelas Nuri di hadapan kelas 2A dan 2B.
“bukan hanya itu, semoga kedepan kalian akan bisa memasak, menyiapkan hidangan, jika nanti sekolah jauh dari orang tua. Jadi tidak tergantung dengan makanan yang sifatnya instan, karna masak sendiri lebih terjaga kebersihan dan kesehatannya bukan?,” tanya Nuri memancing pemahaman siswa kelas 2A dan 2B tersebut.
Tepat pukul 10.30 WIB semua harus selesai, karna hari Jumat tentunya jam pulangnya lebih awal dari biasanya. Semua hasil menggoreng rengginang sudah dibereskan, dipersiapkan untuk dibagi agar bisa mencicipi hasilnya semua.
Dan peralatan yang digunakannya pun ada wajan, soled, dan lainnya juga dibersihkan agar kembali dibawa pulang dalam keadaan bersih. Tak lupa lingkungan kelas pun yang digunakan untuk praktik juga dibersihkan agar kembali nyaman dan dapat digunakan esok dalam keadaan bersih pula. (NF)







