Pasca Bencana Longsor Di Banjarnegara

Seperti sudah kebiasaan  bahwa di akhir tahun dan awal tahun Indonesia yang beriklim tropis akan merasakan musim hujan dan pada puncaknya di Bulan Desember, Januari, seperti ideom jawa “Desember” artinya “Gede-gedene sumber” dan “Januari” yang artinya “Hujan berhari-hari”.  Terjadi pula di akhir tahun 2014, hujan terus mengunjur di kota Banjarnegara sepanjang akhir tahun ini.  Di kala hujan merupakan rahmatNYA namun bisa juga balaNYA.

Banjarnegara merupakan kabupaten yang sebagian besar (lebih kurang 80%) berbentuk pegunungan dan perbukitan, terdapat sungai yang besar yaitu Sungai Serayu dengan anak-anak sungainya : Kali Tulis, Kali Merawu, Kali Pekacangan, Kali Gintung dan Kali Sapi. Dari keadaan geologisnya pada umumnya terlihat struktur batuan yang ada di Kab. Banjarnegara adalah struktur batuan berbentuk lapisan dengan kondisi batuan mudah longsor dan banyak sesar/patahan terutama di wilayah bagian utara sehingga cukup membahayakan bangunan fisik/prasarana (sumber : http://www.banjarnegarakab.go.id).

Hujan terus menerus di tanah yang labil berdampak longsornya gunung  Tlagalele, tepatnya 12 Desember 2014 pukul 17.30 WIB di Dusun Jemblung, Desa  Sampang ,Kec Karangkobar, Kab  Banjarnegara terjadi bencana.  

Seluruh penduduk tersentak mendengar kabar ini, juga pemerintah kabupaten dan berita cepat sekali tersiar melalui media. Kementerian Agama Kab. Banjarnegara di undang rapat “Tanggap Darurat” bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kab. Banjarnegara dipimpin oleh Bupati Banjarnegara.  Sebagai instansi vertikal Kantor Kementerian Agama Kab. Banjarnegara berkoordinasi dengan Kanwil dan Menteri Agama RI  mengajukan pembukaan “Posko Keagamaan”  di lokasi tanah longsor untuk membantu korban bencana.  Posko Keagamaan tersebut melibatkan karyawan Kemenag, KUA, Penyuluh Agama Islam, Pengawas, Kepala Madrasah, para guru, penyuluh non PNS dan pembantu PPN.

Adapun tugas dari Posko Keagamaan adalah menginventarisir jumlah korban yang meninggal/sakit, inventarisasi jumlah lembaga keagamaan yang rusak, pemulasaraan jenazah, memimpin tahlil bagi korban yang meninggal, serta memberikan siraman rohani/penyuluhan agama kepada masyarakat di lokasi bencana. Sedangkan tugas koordinasi, antara lain mengkoordinasikan penerimaan bantuan bagi korban bencana alam dari Jajaran Kementerian Agama, instansi/lembaga masyarakat, dan menyalurkan bantuan, kegiatan lain yang berkenaan dengan fungsi keagamaan, melaksanakan tugas sesuai perintah Bupati serta mengupayakan bantuan seperti alat sholat, Al Qur’an, yasin, tahlil dan buku keagamaan lainnya.

Laporan kegiatan Posko Keagamaan, administrasi dan keuangan dipertanggung jawabkan kepada Kepala Kankemenag Kab. Banjarnegara dan sebagai laporan ke Kanwil dan Kementerian Agama RI.

Kegiatan kemanusian Posko Keagamaan inipun tidak luput dari kendala seperti tidak tersedianya anggaran untuk operasional dan kegiatan Posko Keagamaan, jalur menuju lokasi relatif jauh dikarenakan jalan terputus serta kondisi cuaca dan lokasi mengakibatkan kesehatan petugas posko keagamaan menurun.

Kejadian bencana tidak hanya di Karangkobar juga di beberapa daerah seperti dusun Pencil desa Karangtengah-Wanayasa juga dusun Slimpet desa Mlaya-Punggelan, dan kecamatan Kalibening, bahkan BASARNAS menetapkan 12 titik rawan bencana.

 

Cerita-cerita dan kekuatan para relawan dalam membantu korban baik yang meninggal, terkubur dan yang masih hidup amat luar biasa. Peran serta dari kementerian agama, yang bisa dikatakan mengurus masalah manusia sejak dia lahir sampai dia meninggal. Kegiatan kemanusian Posko Keagamaan inipun tidak luput dari kendala seperti tidak tersedianya anggaran untuk operasional dan kegiatan Posko Keagamaan, jalur menuju lokasi relatif jauh dikarenakan jalan terputus serta kondisi cuaca dan lokasi mengakibatkan kesehatan petugas posko keagamaan menurun.

Hal dan informasi di atas sering di disampaikan oleh Kepala Kankemenag, Drs. H. Farhani, SH.MM dan juga Ketua Posko Keagamaan, Drs. H. Sukarno, MM kepada pada pemberi bantuan dan santuan yang berkanan hadir maupun tidak atas bencana di Banjarnegara.

Bencana tersebut telah mengetuk pintu hati sesama saudara se-Indonesia, untuk keluarga Kementerian Agama tidak ketinggalan. Beberapa sumbangan telah di terima Posko Keagamaan baik secara langsung ke Posko mupun melalui rekening Posko Keagamaan, baik dari lingkungan kantor Kemenag yang ada di provinsi Jawa Tengah dari luar provinsi Jawa Tengah, maupun dari instansi di luar Kementerian Agama. Seperti bantuan dari Kemenag Temanggung, Dewan Masjid dan Gubernuran, Sekretaris Jenderal Kemenag RI, Kemenag Sukoharjo, Pokjaluh Jogjakarta, Kankemenag Kab. Banjarnegara se-Provinsi DIY, Kemenag seprovinsi Sumatera Barat dan masih banyak lagi.

Bantuan yang telah terkumpul sebagian sudah disalurkan kepada korban, dan yang belum rencana akan ditasarufkan untuk mambangun masjid yang sudah hancur terkubur karena bencana, juga membangun pendidikan keagamaan dengan bentuk TPQ/ pendidikan diniyah.
 “Adapun relokasi korban sudah mulai dilakukan sesuai instruksi dari Bupati dan Pemerintah yang ingin segera memulihkan kondisi kehidupan dan ekonomi di Banjarnegara pasca bencana”, sering disampaikan Bupati dan Kepala Kankemenag Banjarnegara.

Posko keagamaan mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas bantuan yang telah disalurkan kepada Posko Keagamaan dan semoga amal ibadah dan keiklasannya di terima oleh Allah SWT dan di beri balasan yang berlipat ganda.(Nangim)