Banjarnegara – Pembelajaran Fikih di kelas 5B MI Ma’arif Al Falah Joyokusumo berlangsung dengan cara yang menarik dan menyenangkan. Pada materi infak, siswa tidak hanya mendapatkan penjelasan secara teori, tetapi juga diajak untuk mengikuti simulasi kegiatan infak menggunakan uang mainan sebagai media pembelajaran.(15/9).
Kegiatan ini bertujuan untuk membantu siswa memahami konsep infak secara lebih konkret melalui pengalaman langsung. Dalam simulasi tersebut, guru mata Pelajaran Fikih Ana Nurul Afiyah mengatakan setiap murid diberikan uang mainan yang kemudian digunakan untuk mempraktikkan kegiatan memberikan sebagian harta untuk keperluan yang baik dan bermanfaat.
“Di pembelajaran ini murid saya kasih uang seribu, dua ribu sampai lima ribu, uangnya uang mainan, setelah itu saya suruh untuk memberikan infak, mau milih yang seribu, dua ribu atau lima ribu dan saya suruh untuk memasukan uang mainan yang untuk infak ke kotak infak yang saya buat sendiri,” ujarnya.
Setelah semua murid melakukan memasukan infak dengan uang mainan tersebut ke kotak infak, Ana kemudian menjelaskan kepada murid 5B bahwa infak itu tidak hanya dengan uang saja, namun bisa juga dengan harta benda atau bisa juga dengan tenaga.
“Setelah murid masukan uang mainan ke kotak infak itu, baru saya menjelaskan kalua infak itu tidak hanya dalam bentuk uang saja, tapi juga bisa dalam bentuk harta atau tenaga,” ujar Ana
Selesai melakukan simulasi infak dan menjelaskan materi tentang infak, Ana juga memberikan tugas ke pada murid kelas 5B berupa flip book yang berisi soal mengenai infak, hadiah, sedekah dan zakat
“Setelah selesai melakukan simulasi infak dan menjelaskan materi,saya membagi flip book yang di dalamnya ada infak, hadiah, zakat dan sedekah, disitu murid menempel dan mengerjakan lkpd yang ada di flip book,” ujar Ana.
Dengan suasana pembelajaran yang interaktif, murid terlihat antusias mengikuti setiap tahapan kegiatan. Mereka belajar bagaimana cara menyisihkan sebagian harta, memahami pentingnya keikhlasan dalam berinfak, serta mengenal manfaat infak bagi diri sendiri maupun orang lain.
Penggunaan uang mainan menjadi media yang menarik bagi siswa karena membuat materi yang sebelumnya bersifat abstrak menjadi lebih mudah dipahami. Melalui praktik sederhana tersebut, murid dapat belajar bahwa infak tidak hanya berkaitan dengan jumlah yang diberikan, tetapi juga tentang keikhlasan, kepedulian, dan kebiasaan berbagi kepada sesama.
Pembelajaran Fikih dengan metode simulasi ini diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi murid kelas 5B dan mengajarkan kepada mereka tentang indahnya berbagi dengan sesama, menerapkan nilai-nilai ikhlas, peduli, dan gemar membantu dalam kehidupan sehari-hari.(RN).







