Pentingnya Pelukan, Gones Saptowati Isi Parenting Harlah XIV MI MIMUB

Banjarnegara – Dalam rangka memperingati Harlah XIV MI Miftahul Mubtadi’in (MI MIMUB), kegiatan parenting digelar pada Kamis, 16 April 2026, dengan menghadirkan narasumber Gones Saptowati. Acara ini berlangsung meriah dan penuh antusiasme, diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri atas wali murid kelas 1–6 MI MIMUB, wali murid PAUD se-Kabupaten Banjarnegara, serta guru dan siswa.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Kepala K3MI, Kepala Desa, dan Pengawas, yang turut memberikan dukungan terhadap pentingnya sinergi antara sekolah dan orang tua dalam mendidik anak. Mengusung tema “Mengasuh dan Mendidik Generasi Qur’ani dengan Penuh Cinta”, parenting ini memberikan berbagai wawasan praktis dalam pola asuh anak yang lebih efektif dan penuh kasih sayang.

Dalam pemaparannya, Gones Saptowati menekankan pentingnya sentuhan emosional dalam mendidik anak, salah satunya melalui pelukan. Ia menjelaskan bahwa pelukan memiliki dampak besar terhadap perkembangan psikologis dan emosional anak. “Jika kita berpelukan empat kali sehari, maka kita akan merasa aman. Delapan kali sehari membuat kita lebih sehat secara mental. Bahkan, dua belas kali sehari dapat mendukung perkembangan psikologis dan emosional, terutama pada anak,” ungkapnya.

Para peserta diajak untuk merefleksikan kembali peran sederhana namun berdampak besar dalam membangun kedekatan emosional dengan anak. Selain itu, Gones juga menekankan pentingnya memberikan validasi emosi kepada anak tanpa membedakan gender. Ia menegaskan bahwa anak laki-laki pun memiliki hak untuk mengekspresikan perasaan, termasuk menangis.

Salah satu peserta parenting mengungkapkan kesan mendalam terhadap materi yang disampaikan. “Materi hari ini sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. Saya biasanya langsung menyuruh anak diam saat menangis. Namun, setelah mendapatkan ilmu ini, saya memahami bahwa emosi anak perlu dilepaskan terlebih dahulu, kemudian divalidasi perasaannya sebelum ditenangkan,” tuturnya.

Kegiatan parenting ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya pola asuh berbasis cinta dan empati. Dengan demikian, terwujud generasi Qur’ani yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara emosional dan spiritual. (Rs)

Skip to content