Banjarnegara (Humas) – Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Mandiraja, Dian Setiadi, Feti Sulistiyani, dan Hendriyanto, melaksanakan pendampingan pembelajaran Al-Qur’an Isyarat bersama penyandang tunarungu di Majelis Taklim Bengkel Hati, Mandiraja Kulon, Kamis (24/09/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan keagamaan yang memberikan ruang bagi penyandang tunarungu untuk mempelajari Al-Qur’an melalui metode yang sesuai dengan kebutuhan komunikasi mereka. Pembelajaran dilaksanakan dengan pendekatan Al-Qur’an Isyarat sehingga peserta dapat mengikuti proses belajar secara lebih mudah dan komunikatif.
Dian Setiadi menjelaskan bahwa kesempatan memperoleh pembelajaran keagamaan perlu dibuka secara inklusif agar setiap masyarakat dapat mengembangkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama sesuai dengan kondisi masing-masing.
“Pembelajaran Al-Qur’an Isyarat menjadi salah satu sarana agar penyandang tunarungu dapat memperoleh akses terhadap pembelajaran Al-Qur’an. Pendampingan dilakukan dengan mengutamakan komunikasi yang mudah dipahami serta suasana belajar yang nyaman,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, para penyuluh mendampingi peserta mempelajari materi Al-Qur’an Isyarat secara bertahap. Proses pembelajaran tidak hanya menekankan kemampuan membaca atau memahami ayat, tetapi juga membangun kebiasaan belajar Al-Qur’an secara berkelanjutan.
Feti Sulistiyani menyampaikan bahwa kegiatan pembelajaran bersama penyandang tunarungu juga menjadi kesempatan untuk memperkuat kepedulian dan keterlibatan masyarakat dalam mewujudkan layanan keagamaan yang ramah bagi semua.
“Kami berharap kegiatan ini dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi peserta. Pembelajaran agama akan lebih bermakna ketika setiap orang mendapatkan kesempatan untuk belajar dengan metode yang sesuai dengan kebutuhannya,” ucapnya.
Sementara itu, Hendriyanto menekankan pentingnya kesinambungan pembelajaran agar peserta tidak hanya mengikuti kegiatan secara insidental, tetapi memiliki ruang untuk terus meningkatkan kemampuan dan pemahaman keagamaannya.
“Belajar Al-Qur’an membutuhkan ketekunan dan proses yang berkelanjutan. Karena itu, pendampingan seperti ini diharapkan dapat menjaga semangat peserta untuk terus belajar dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.
Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh interaksi. Kehadiran para penyuluh bersama peserta menjadi wujud pembinaan keagamaan yang mengedepankan aksesibilitas dan kepedulian sosial.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan semakin tumbuh kesadaran bahwa pembelajaran Al-Qur’an dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan yang sesuai kebutuhan peserta. Selain meningkatkan literasi Al-Qur’an, kegiatan ini juga diharapkan memperkuat semangat kebersamaan serta memberikan ruang yang setara bagi penyandang tunarungu dalam memperoleh pembinaan keagamaan.
(m/azd)
