Banjarnegara – Selasa (9/12) — Penampilan drama kelas 9H dalam kegiatan Panen Karya P5RA dengan topik MARI BERANI: Membangun Remaja Indonesia Berencana dan Anti Pernikahan Dini berhasil mencuri perhatian siswa Madtsansa yang menyaksikan di lapangan indoor. Drama berjudul “Yang Tersisa dari Aliya” itu menghadirkan kisah pilu seorang remaja yang dipaksa menikah muda hingga kehilangan masa depan dan dirinya sendiri.
Para siswa 9H tidak hanya menampilkan kemampuan akting yang kuat dan ekspresif, tetapi juga menyampaikan pesan moral yang sangat relevan dengan kondisi remaja saat ini. Alur cerita yang diadaptasi dari realita sosial mengenai tekanan ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, dan hilangnya hak pendidikan membuat suasana pertunjukan beberapa kali hening karena penonton terhanyut.
Sejak adegan pembuka, ketika tokoh Aliya dipaksa menikah oleh orang tuanya demi alasan ekonomi, penonton sudah mulai terbawa suasana. Konflik semakin kuat ketika Aliya harus menghadapi kekerasan emosional dari suaminya, Rudi, hingga akhirnya pulang dalam keadaan hancur. Puncak drama yang memperlihatkan penyesalan orang tua Aliya menjadi momen yang membuat banyak penonton terdiam.
Ketua tim penilai, Hj. Amri Inayati, memberikan apresiasi tinggi terhadap drama ini.
“Saya terharu sekaligus bangga. Anak-anak 9H mampu membawakan isu yang berat dengan sangat matang. Pesan tentang bahaya pernikahan dini tersampaikan dengan jelas, tanpa menggurui, tapi benar-benar menusuk perasaan,” ujarnya usai penampilan.
Ia juga menambahkan bahwa drama tersebut layak dijadikan contoh mengenai bagaimana seni dapat menjadi media kampanye sosial yang efektif.
Penilai lainnya, Ki Sarno, juga memberikan komentar positif.
“Aktingnya hidup, dialognya kuat, dan pemahaman mereka terhadap isu sangat dalam. Ini bukan sekadar drama sekolah, tapi sebuah karya penuh kesadaran sosial. Saya melihat keberanian mereka untuk menyuarakan ketidakadilan,” katanya.
Wali kelas 9H, Estu Diah Fitriyani, mengaku tak kuasa menahan haru melihat anak didiknya tampil begitu total.
“Saya tahu mereka berlatih keras, tapi hasil akhirnya jauh di luar ekspektasi saya. Mereka bukan hanya memainkan peran, tetapi benar-benar memahami makna di baliknya. Tema anti pernikahan dini itu mereka olah dengan empati dan keberanian,” tutur Bu Estu.
Menurutnya, proses latihan drama ini juga menjadi ruang bagi siswa untuk berdiskusi mengenai masa depan, hak anak, serta risiko besar jika remaja tidak diberi kesempatan belajar dan tumbuh.
Dua pemeran utama yang juga ikut menyampaikan kesan mereka adalah Neizar dan Pratiwi. Neizar, yang berperan sebagai ayah Aliya mengaku sempat terbebani oleh karakter penuh konflik tersebut.
“Aku harus memerankan ayah yang salah mengambil keputusan. Sulit, tapi aku belajar bahwa tekanan ekonomi tidak boleh jadi alasan merusak masa depan anak. Itu pesan yang paling ingin kami sampaikan,” katanya.
Sementara itu, Pratiwi, pemeran Aliya, mengungkapkan bahwa mendalami karakter yang mengalami kekerasan dan kehilangan harapan bukanlah hal mudah.
“Beberapa adegan membuat aku sendiri ikut sedih, terutama saat Aliya kembali ke rumah tapi jiwanya sudah hancur. Semoga penampilan kami membuat orang-orang lebih sadar bahwa pernikahan dini bukan solusi,” ujarnya.
Panen Karya P5RA tahun ini menjadi panggung bagi suara-suara muda yang peduli akan masa depan generasinya. Drama kelas 9H bukan hanya memukau secara estetika, tetapi juga memberikan tamparan moral bagi para orang tua, pendidik, dan remaja sendiri.
Melalui akting kuat, alur yang menyentuh, dan pesan sosial yang tajam, 9H berhasil menunjukkan bahwa seni dapat menjadi sarana penting untuk mencegah praktik pernikahan dini dan memperjuangkan hak anak untuk tumbuh, bermimpi, dan berpendidikan.
Dengan tepuk tangan meriah yang menggema panjang di akhir pertunjukan, jelas bahwa drama ini bukan hanya sebuah karya pentas, tetapi sebuah seruan agar semua pihak lebih berani menjaga masa depan remaja Indonesia. (Fy)







