Banjarnegara – MI Ma’arif Al Falah Joyokusumo (MIMAU) seluruh guru dan siswa mengenakan pakaian muslim ala santri selama 3 hari dari hari Senin-Rabu atau tanggal 20-22 Oktober ini dalam rangka hari Santri Nasional. (20-22/10). Penggunaan pakaian santri (seperti sarung dan baju muslim/ bernuansa putih) dimaksudkan untuk meneladani dan menegaskan nilai-nilai keikhlasan, disiplin, kesederhanaan, kekompakan, dan semangat kebangsaan yang melekat pada tradisi santri.
HSN diperingati setiap tanggal 22 Oktober, dan kebijakan pakaian khusus ini adalah bagian dari cara pemerintah daerah setempat untuk menyemarakkan dan menghormati momentum peringatan tersebut. Wahyul Khomisah kepala madrasah, mengatakan penggunaan pakaian santri ini menjadi simbol identitas MIMAU sebagai madrasah yang kental dengan nilai-nilai keislaman.
“Madrasah kita dikenal sesuai dengan slogannya yaitu cekatan (cerdas, kreatif, inovatif dan Qur’ani) maka selama tiga hari ini seluruh guru-guru dan juga seluruh siswa MIMAU mengenakan baju santri atau pakaian muslim. Untuk laki-laki memakai sarung, baju koko dan kopiah dan putri memakai gamis berjilbab dengan semua bernuansa putih,”jelas Yul panggilan akrabnya .
Selain mengenakan pakaian muslim nuansa putih juga dari surat yang dilayangkan kantor kementerian agama Banjarnegara menghimbau agar melaksanakan tadarus Al Qur’an sebelum memulai kegiatan pembelajaran.
Yul menjelaskan sebenarnya bukan hanya saat peringatan hari santri saja, bahwa MIMAU sudah setiap hari melaksanakan tadarus Al-Qur’an sebelum mulai kegiatan pembelajaran.
“meskipun kita tadarus Al-Qur’an nya setelah melaksanakan rutinitas pagi yaitu pembiasaan sholat Dhuha, Hajat, kemudian dilanjut melafalkan Asmaul Husna dan setelah itu mengaji Qiroati, namun tidak mengurangi makna dan tujuan hal tersebut. Dan kali ini apalagi momentum nya sesuai dengan peringatan HSN yang dimana kita dihimbau untuk melaksanakannya, semoga dengan adanya himbauan tersebut kita bisa meningkatkan keistiqomahan kita untuk selalu tada Al Qur’an,”ungkap yul dihadapan guru-guru saat doa bersama di Senin pagi lalu.
“santri itu identik dengan tatakrama dan akhlakul karimah. Penekanannya bukan hanya pada pakaian yang menutup aurat, tapi juga pada sikap dan perilaku,”Yul menambahkan, penggunaan pakaian muslim bernuansa putih tidak sekadar simbolik, tetapi juga mengandung pesan moral agar guru dan siswa MIMAU meneladani akhlak para santri.
Mengusung tema Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia, dan semangat santri dinilai relevan dengan tema tersebut. Harapannya santri berperan sebagai agen perubahan yang tidak hanya menjaga nilai-nilai bangsa, tetapi juga berkontribusi dalam pembangunan global dengan ilmu pengetahuan, akhlak mulia, dan toleransi, menghadapi tantangan modernisasi dan globalisasi.(NF)







