Saat Takbir Menggema, Keikhlasan Berkurban Menyatukan Hati Umat

Banjarnegara (Humas) — Suasana penuh kekhusyukan dan semangat menyambut datangnya Iduladha terasa hangat dalam kegiatan penyuluhan agama di Majelis Taklim Baitul Muttaqin Kletak Medayu pada Minggu(24/5/2026). Kegiatan yang diisi oleh Penyuluh Agama Islam KUA Wanadadi, Tugiran, tersebut menghadirkan kajian mendalam tentang makna ibadah kurban melalui tadabbur Al-Qur’an Surat Al-Hajj ayat 34 sampai 36.

Jamaah majelis taklim tampak antusias mengikuti penyampaian materi yang sarat nilai keikhlasan, ketakwaan, dan kepedulian sosial. Dalam penyampaiannya, Tugiran mengajak jamaah untuk tidak hanya memandang kurban sebagai ritual tahunan, namun juga sebagai bentuk penghambaan dan ketaatan kepada Allah Swt.

Adapun ayat yang dikaji dalam kegiatan tersebut adalah Surat Al-Hajj ayat 34–36:

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).”(QS. Al-Hajj: 34)

“(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang melaksanakan salat dan orang-orang yang menginfakkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka.”(QS. Al-Hajj: 35)

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya, maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan hewan-hewan itu untuk kamu agar kamu bersyukur.”(QS. Al-Hajj: 36)

Dalam tausiyahnya, Tugiran menegaskan bahwa hakikat kurban bukan terletak pada banyaknya hewan yang disembelih, melainkan pada ketulusan hati dan ketakwaan seorang hamba kepada Allah Swt.

“Kurban adalah pendidikan keikhlasan. Allah tidak membutuhkan darah maupun dagingnya, tetapi Allah melihat ketakwaan dan ketulusan hati hamba-Nya. Melalui kurban, kita belajar berbagi, peduli, dan mempererat ukhuwah sesama,” ujar Tugiran di hadapan jamaah.

Ia juga mengajak jamaah untuk menjadikan momentum Iduladha sebagai sarana memperkuat empati sosial kepada masyarakat yang membutuhkan. Menurutnya, nilai kurban akan terasa indah ketika mampu menghadirkan kebahagiaan bagi sesama.

Kegiatan berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan diakhiri dengan doa bersama agar seluruh jamaah diberikan kesehatan, kelapangan rezeki, serta kemampuan untuk meningkatkan amal saleh di sepuluh hari terbaik bulan Dzulhijjah.

Melalui kegiatan penyuluhan ini, KUA Wanadadi terus berkomitmen menghadirkan pembinaan keagamaan yang menyejukkan dan membangun kesadaran umat dalam mengamalkan ajaran Islam secara utuh, demi terwujudnya masyarakat yang religius, rukun, dan penuh kepedulian sosial.

(NN/azd)

Skip to content