Salat  Bukan Beban, Tapi Kebutuhan: Pesan Menyentuh Penyuluh Agama Islam KUA Banjarnegara di Hadapan Majelis Taklim An Nisa

Banjarnegara (Humas) – Suasana khidmat menyelimuti tempat pengajian saat ibu-ibu yang tergabung dalam Majelis Taklim An Nisa Desa Ampelsari Kecamatan Banjarnegara berkumpul untuk menyimak kajian rutin, Rabu (6/5). Kali ini, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Banjarnegara, Ani Musyarofah, hadir membawa materi yang sangat mendasar namun krusial dalam kehidupan seorang muslim, yakni konsistensi dalam beribadah.

Dalam ceramahnya yang bertajuk “salat  Bukan Beban, Tapi Kebutuhan”, penyuluh menekankan bahwa banyak umat Muslim yang masih memandang salat  lima waktu sebagai penggugur kewajiban semata. Padahal, salat  adalah ruang jeda bagi manusia untuk beristirahat dari hiruk-pikuk dunia.

“Jangan jadikan salat  sebagai beban yang menghimpit jadwal kita, tapi jadikanlah ia tempat kita melepas penat. salat  adalah momen ‘curhat’ terbaik kepada Sang Pencipta,” ujar penyuluh dengan nada menyejukkan.

Untuk menjaga konsistensi tersebut, penyuluh membagikan tiga tips praktis yang bisa diterapkan oleh jamaah dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Melawan Penundaan dengan Rumus 5 Menit: Begitu azan berkumandang, segera beranjak tanpa memberi ruang bagi nafsu untuk menawar waktu.
  2. Memahami Makna Bacaan: Dengan memahami apa yang diucapkan saat sujud dan ruku, salat  akan terasa lebih hidup dan tidak membosankan.
  3. Mencari Teman Shalih: Bergabung dalam majelis taklim seperti An Nisa adalah langkah tepat agar ada lingkungan yang saling mengingatkan saat iman sedang turun.

Ketua Majelis Taklim An Nisa mengungkapkan bahwa materi ini sangat relevan bagi ibu-ibu yang sering kali terjebak dalam kesibukan rumah tangga sehingga sering melalaikan awal waktu salat . “Sentuhan nasihat tadi membuat kami sadar bahwa salat lah yang memberikan keberkahan pada waktu dan pekerjaan kami,” ungkapnya.

Pertemuan ditutup dengan doa bersama, membawa harapan agar setiap langkah kaki jamaah selalu diringi keikhlasan. Melalui kajian ini, KUA Banjarnegara berkomitmen untuk terus menghadirkan bimbingan yang menyentuh sisi spiritual terdalam masyarakat, menjadikan ibadah sebagai napas kehidupan, bukan sekadar rutinitas tanpa makna.

Skip to content