Banjarnegara – Suasana riang mewarnai gelaran Deep Learning Festival di MI Miftahul Mubtadi’in (MI MIMUB) pada Selasa, 11 November 2025. Pada kesempatan ini, siswa kelas 3B menghadirkan salah satu kekayaan budaya Indonesia melalui demonstrasi permainan tradisional engklek. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran Seni Budaya yang mengangkat tema panca cinta, khususnya cinta tanah air dengan mengenalkan dan melestarikan budaya permainan tradisional.
Engklek, yang juga dikenal dengan sebutan engklek, cingklak, atau jekjong di beberapa daerah, merupakan permainan tradisional yang telah ada sejak masa kolonial Belanda. Seiring waktu, permainan tersebut berbaur dengan budaya lokal dan berkembang menjadi permainan rakyat yang sangat populer di berbagai wilayah Indonesia. Engklek dimainkan dengan cara melompat menggunakan satu kaki melintasi kotak-kotak yang digambar di tanah, sehingga mampu melatih keseimbangan, ketangkasan, dan konsentrasi anak.
Modifikasi dari engklek dicetak dengan banner menyesuaikan gambar minat atau tema pembelajaran yang sedang dipelajari. Rini, wali kelas 3B, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan siswa terhadap permainan tradisional yang mulai jarang dimainkan. “Dengan perkembangan teknologi, siswa kini mulai meninggalkan permainan tradisional. Padahal engklek ini permainan yang menyenangkan sekaligus bisa melatih keseimbangan sekaligus kerja sama dan sportivitas,” ujarnya saat mendampingi para siswa yang tengah melakukan demonstrasi permainan.
Antusiasme terlihat jelas ketika siswa dari kelas lain mencoba bergabung memainkan engklek. Gelak tawa dan sorak semangat mewarnai halaman sekolah ketika mereka berlomba-lomba melompat dengan keseimbangan terbaik. Humaira, salah satu siswa kelas 3B yang menjadi pemandu, menjelaskan cara bermain engklek dengan sangat baik dan komunikatif. Ia menunjukkan bagaimana menentukan kotak awal, aturan melempar gacuk, serta cara melompat yang benar.
Kehadiran permainan engklek dalam Deep Learning Festival MI MIMUB tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menjadi media edukasi untuk mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda. Melalui kegiatan ini, sekolah berharap nilai-nilai budaya, sportivitas, dan kecintaan terhadap permainan tradisional dapat terus hidup dan diwariskan kepada siswa-siswi berikutnya. Dengan demikian, festival ini menjadi momentum penting untuk menguatkan identitas budaya sejak usia dini. (rs)







