Banjarnegara – Amanat tentang kedisiplinan yang disampaikan Miss Nila dalam upacara rutin Senin di MIFABARA tidak berhenti sebagai pesan yang didengar sesaat. Nilai tersebut langsung ditindaklanjuti melalui kegiatan evaluasi dan introspeksi bersama seluruh siswa.(7/9)
Usai pelaksanaan upacara, Nani, guru MIFABARA, mengajak seluruh siswa untuk sejenak melihat kembali perilaku mereka masing-masing. Para siswa diajak bertanya kepada diri sendiri: “Apakah saya sudah menjadi anak yang disiplin?”
Ajakan tersebut menjadi ruang sederhana bagi anak-anak untuk belajar jujur terhadap diri sendiri. Sebab, kedisiplinan bukan hanya tentang menaati aturan ketika ada guru yang melihat, tetapi tentang kesadaran untuk melakukan hal yang benar meskipun tidak sedang diawasi.
Nani mengajak siswa memulai evaluasi dari hal-hal kecil yang terjadi dalam keseharian di madrasah, termasuk ketika mengikuti upacara. Dari pengamatan selama pelaksanaan upacara, masih ditemukan beberapa siswa yang belum sepenuhnya tertib dan khidmat. Ada yang masih berbicara dengan teman, kurang memperhatikan jalannya upacara, serta belum berdiri dengan rapi sesuai barisan.
Hal-hal kecil tersebut kemudian dijadikan bahan refleksi bersama. Siswa diberikan pemahaman bahwa disiplin tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Berdiri tertib saat upacara, mendengarkan ketika orang lain berbicara, datang tepat waktu, mengenakan seragam dengan lengkap, hingga menaati tata tertib madrasah adalah bagian dari latihan menjadi pribadi yang disiplin.
Tidak hanya mengevaluasi sikap selama upacara, Nani bersama guru MIFABARA juga melakukan pengecekan terhadap kelengkapan seragam dan atribut siswa. Beberapa siswa yang masih belum lengkap diberikan arahan secara langsung dan diminta untuk segera memperbaikinya.
Pendekatan tersebut dilakukan bukan untuk mempermalukan atau menghukum siswa, melainkan sebagai bentuk pembinaan agar anak memahami konsekuensi dari setiap aturan yang berlaku.
Nani menegaskan bahwa guru tidak hanya bertugas mengajarkan pengetahuan, tetapi juga mendampingi siswa dalam membangun kebiasaan baik.
“Disiplin itu harus tumbuh dari kesadaran. Kita mulai dari hal-hal kecil. Kalau anak-anak mampu membiasakan diri tertib, rapi, tepat waktu, dan menaati aturan karena kesadarannya sendiri, insyaallah kebiasaan itu akan menjadi karakter yang mereka bawa sampai dewasa,” pesannya.
Dari barisan upacara, MIFABARA mengajarkan refleksi. Dari seragam yang dirapikan, tumbuh tanggung jawab. Dan dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari, perlahan lahir karakter besar.(nas)







