Banjarnegara (Humas) – Suasana ceria dan penuh tawa mewarnai aula TK IT Permata Hati Banjarnegara pada, Jumat (8/8) pagi. Puluhan siswa berseragam merah muda tampak antusias mengikuti setiap gerakan yang diajarkan oleh dua siswi MTs Negeri 1 Banjarnegara, Pusya dan Zizi, yang tergabung dalam tim riset madrasah. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengenalan dan pelestarian budaya daerah melalui seni tari kepada generasi usia dini.
Pusya dan Zizi membawakan tari aplang, salah satu tarian tradisional Banjarnegara yang sarat makna kebersamaan. Mereka memulai kegiatan dengan memutar video tari aplang di layar proyektor untuk memberikan gambaran kepada para siswa. Selanjutnya, keduanya naik ke panggung dan memberikan instruksi gerakan demi gerakan, disertai iringan musik yang membuat suasana semakin semarak.
“Awalnya kami agak khawatir anak-anak akan kesulitan mengikuti gerakan, tapi ternyata mereka cepat sekali menirunya,” ungkap Pusya sambil tersenyum.
“Kami senang sekali bisa berbagi budaya daerah sejak dini. Harapannya, anak-anak ini nanti akan tumbuh dengan rasa bangga terhadap kesenian lokal.”
Senada dengan itu, Ziizi merasa pengalaman mengajar di hadapan anak-anak TK menjadi momen berharga dalam perjalanan riset mereka.
“Mengajar anak-anak itu penuh tantangan. Harus sabar, tapi juga kreatif agar mereka tertarik. Tapi begitu melihat mereka tertawa sambil menari, semua lelah terbayar,” ujarnya.
Guru pembimbing tim riset Madtsansa, Musfiatul Muniroh, yang turut mendampingi kegiatan ini, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari riset yang sedang dilakukan Pusya dan Zizi tentang pengenalan kesenian tradisional kepada anak usia dini.
“Kami ingin membuktikan bahwa pengenalan budaya lokal bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Tari aplang dipilih karena gerakannya sederhana dan iramanya ceria, sehingga mudah diikuti anak-anak,” tutur Musfiatul.
Selama sesi berlangsung, siswa-siswi TK IT Permata Hati dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama mencoba gerakan dasar di area tengah aula, sementara kelompok kedua menyaksikan dari depan panggung sambil bersiap untuk bergantian. Guru-guru TK turut membantu mengarahkan anak-anak agar tetap fokus dan mengikuti irama.
Salah satu siswa TK IT Permata Hati, Kirana, mengaku sangat senang mengikuti kegiatan ini.
“Aku suka sekali tari aplang. Gerakannya lucu, lagunya juga enak. Aku mau latihan lagi di rumah,” katanya polos.
Selain mengajarkan tari, Pusya dan Zizi juga memberikan sedikit penjelasan tentang makna tarian ini, yaitu menggambarkan kebersamaan dan semangat gotong royong masyarakat Banjarnegara. Penjelasan ini disampaikan dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami oleh anak-anak.
Kegiatan diakhiri dengan penampilan bersama, di mana seluruh siswa TK, guru, dan tim riset Madtsansa menari aplang dengan penuh semangat. Sorakan gembira dan tepuk tangan meriah terdengar di akhir penampilan, menjadi bukti suksesnya acara ini.
Musfiatul menegaskan bahwa Madtsansa berkomitmen untuk terus melibatkan siswanya dalam kegiatan sosial-edukatif di luar sekolah.
“Anak-anak kita tidak hanya belajar untuk menjadi peneliti, tetapi juga belajar berinteraksi, berkomunikasi, dan berbagi ilmu kepada masyarakat,” jelasnya.
Pusya dan Zizi sendiri berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal untuk memperkenalkan lebih banyak kesenian daerah kepada anak-anak di sekolah lain. Mereka bahkan berencana mengembangkan modul pembelajaran tari tradisional untuk anak usia dini sebagai bagian dari laporan riset mereka.
Bagi TK IT Permata Hati, kunjungan ini memberikan warna baru dalam kegiatan pembelajaran. Kepala sekolah dan para guru menyambut baik kolaborasi ini dan berharap dapat menjalin kerja sama lanjutan dengan Madtsansa di masa depan.
Dengan senyum ceria anak-anak yang masih terdengar bernyanyi mengikuti irama tari aplang bahkan setelah kegiatan berakhir, jelas terlihat bahwa misi tim riset Madtsansa kali ini berhasil: menanamkan cinta budaya lokal dengan cara yang menyenangkan dan penuh kebersamaan. (Lin/La)







