Banjarnegara (Humas) – Di tengah tantangan ekonomi dan dinamika sosial yang kian kompleks, ketahanan mental menjadi modal utama bagi masyarakat pedesaan. Menyadari hal tersebut, Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan melakukan terobosan dengan menggelar penyuluhan spiritual di Majelis Taklim (MT) Al Mubarok, Desa Larangan, pada Rabu (14/1/2026).
Bertempat di RA Al Hidayah Larangan, kegiatan ini tidak sekadar menjadi rutinitas keagamaan, melainkan sebuah ruang refleksi untuk membedah fase Amul Huzni atau Tahun Kesedihan yang pernah dialami oleh Nabi Muhammad saw. M. Syaiful Abidin, Penyuluh Agama Islam KUA Pagentan, hadir memberikan perspektif baru tentang bagaimana cara bangkit dari titik terendah dalam hidup.
Dalam uraiannya, Syaiful membedah latar belakang peristiwa Isra Mikraj yang sering kali hanya dilihat dari sisi mukjizatnya saja. Ia menekankan bahwa perjalanan agung tersebut merupakan respon Tuhan atas ketabahan luar biasa Rasulullah setelah kehilangan dua pilar hidupnya: Siti Khadijah dan Abu Thalib.
“Ujian hidup, baik itu berupa kesulitan ekonomi maupun konflik keluarga, adalah hal yang manusiawi. Namun, melalui Ibrah Isra Mikraj, kita diajarkan bahwa setelah kesedihan yang mendalam, selalu ada ‘hadiah’ kemuliaan bagi mereka yang tidak berputus asa,” jelas Syaiful di hadapan para jamaah.
Respon positif datang dari Ketua MT Al Mubarok sekaligus Kepala RA Al Hidayah, Hidayat Dandi Pratama. Ia menilai bahwa materi yang disampaikan sangat tepat sasaran bagi para ibu di Desa Larangan yang sering kali menjadi tonggak emosional dalam rumah tangga. Menurutnya, pendampingan seperti ini sangat efektif untuk menjaga kesehatan mental warga di tengah himpitan hidup.
“Pendampingan spiritual seperti ini sangat efektif untuk menjaga kesehatan mental warga. Kami diingatkan bahwa setiap kesulitan ada kemudahan, dan setiap ujian adalah cara Tuhan untuk menaikkan derajat hamba-Nya,” ujar Hidayat.
Langkah yang diambil KUA Pagentan ini mempertegas pergeseran paradigma lembaga tersebut. KUA kini tidak lagi hanya identik dengan urusan administrasi pernikahan (pencatatan nikah), tetapi telah bertransformasi menjadi pusat layanan bimbingan moral dan spiritual yang menyentuh akar rumput.
Melalui literasi Sirah Nabawiyah (Sejarah Nabi), KUA Pagentan berharap masyarakat Desa Larangan mampu mengadopsi karakter tangguh dalam menghadapi tantangan zaman. Acara yang dihadiri sekitar 20 jamaah ini ditutup dengan diskusi interaktif yang hangat dan doa bersama, memperkuat ikatan spiritualitas kolektif warga desa.
(msa/azd)







