Bersama Psikolog Alta Aviva Pamuji, Siswa MTsN 1 Banjarnegara Diskusi Anime

Banjarnegara (Humas) – Selasa (5/8), Aldan Pradana Ani, siswa kelas riset MTs Negeri 1 Banjarnegara, melakukan kunjungan akademik ke psikolog Alta Aviva Pamuji, dalam rangka mendalami kajian tentang mekanisme coping (coping mechanism) Generasi Z terhadap perilaku dalam anime. Diskusi ini merupakan bagian dari penelitian yang tengah dikerjakannya di bawah bimbingan guru riset Madtsansa, Musfiatul Muniroh.

Bertempat di ruang praktik psikologi profesional milik Alta Aviva, diskusi berlangsung intens dan penuh wawasan. Aldan menggali bagaimana pengaruh tayangan anime, sebagai bentuk media populer, mampu membentuk atau memengaruhi cara Gen Z menyikapi stres, kecemasan, maupun tekanan sosial.

“Aldan membawa pertanyaan-pertanyaan yang sangat kritis dan kontekstual. Ia ingin memahami bagaimana karakter-karakter anime yang seringkali mengalami tekanan emosional seperti kehilangan, ketakutan, atau perjuangan batin justru bisa menjadi rujukan coping bagi anak-anak seusianya,” jelas Alta Aviva setelah sesi diskusi berlangsung.

Menurut Alta, generasi Z, yang hidup berdampingan dengan teknologi dan informasi visual, sangat rentan meniru atau menginternalisasi perilaku yang mereka konsumsi secara repetitif.

“Karakter dalam anime sering kali digambarkan menghadapi konflik besar dan memprosesnya dengan cara-cara yang dramatis atau bahkan melampaui realisme. Ini bisa menjadi inspiratif, tetapi juga bisa kontraproduktif, tergantung bagaimana individu memaknainya. Karena itu, penting bagi Gen Z untuk memiliki pengetahuan dasar psikologis tentang apa itu coping yang sehat dan apa itu mekanisme pelarian,” tambah Alta.

Dalam diskusi tersebut, Aldan mengajukan hipotesis bahwa karakter anime, seperti dalam Attack on Titan, Naruto, atau Tokyo Revengers, sering memberikan representasi coping yang ‘radikal’ namun secara emosional relatable. Alta menjelaskan bahwa hal ini bisa menjadi ‘gateway’ untuk pemahaman diri jika dikombinasikan dengan edukasi yang tepat.

“Faktanya, banyak anak merasa bahwa karakter anime ‘mengerti’ mereka lebih dari lingkungan sekitar. Ini bukan sesuatu yang harus ditertawakan, tapi justru menjadi tanda bahwa kita perlu hadir di dunia mereka dan membimbing mereka memahami emosi mereka,” terang Alta.

Musfiatul Muniroh, pembimbing riset Aldan, mengapresiasi keterbukaan dan kedalaman diskusi ini. Menurutnya, penelitian ini membuka ruang baru dalam pendekatan pendidikan berbasis psikologi dan media populer.

“Riset Aldan ini menjadi jembatan antara dunia siswa dan dunia akademik. Anime bukan lagi sekadar hiburan, tapi bisa menjadi bahan kajian serius dalam memahami psikologi remaja. Kami di MTsN 1 Banjarnegara mendukung penuh eksplorasi semacam ini,” ungkap Musfiatul.

Senada dengan itu, guru BK MTsN 1 Banjarnegara, Ardian Apriliana, juga menekankan pentingnya kepekaan sekolah terhadap media yang dikonsumsi siswa. Ia menyebut bahwa anime memiliki potensi besar sebagai alat reflektif bagi siswa, jika ditangani dengan pendekatan bimbingan yang benar.

“Saya melihat banyak siswa yang merasa ‘terwakili’ oleh tokoh anime, terutama dalam hal perasaan terisolasi, tekanan keluarga, atau pencarian jati diri. Ini bisa jadi modal untuk intervensi positif, tapi juga bisa menyesatkan jika tidak ada pendampingan,” ujar Ardian.

Setelah pertemuan ini, Aldan berencana untuk mengembangkan temuannya menjadi makalah riset yang akan dikompetisikan dalam ajang riset tingkat kabupaten. Ia juga akan merancang instrumen survei untuk mengukur persepsi dan reaksi siswa terhadap karakter anime dan kaitannya dengan perilaku coping mereka.

“Saya sangat bersyukur bisa berdiskusi langsung dengan Bu Alta. Banyak perspektif baru yang saya dapatkan, terutama tentang pentingnya memfilter tayangan dan memahami konteks emosional karakter. Ini akan sangat membantu dalam merumuskan kesimpulan riset saya,” kata Aldan.

Kunjungan ini menjadi contoh nyata integrasi riset siswa dengan pakar profesional dalam rangka membangun literasi media dan kesehatan mental remaja yang lebih baik. MTs Negeri 1 Banjarnegara pun terus menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi muda yang kritis, adaptif, dan peduli terhadap isu-isu kontemporer. (Lin/La)

Skip to content