Mengupas Tuntas Bahaya Ketidakjujuran Niat: KUA Pagentan Ingatkan MT Nurul Hidayah soal “Basa-Basi Kosong”

Banjarnegara (Humas) – Kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap sepele, seperti menawarkan bantuan atau sesuatu yang berharga, ternyata menyimpan potensi masalah serius jika tidak dibarengi dengan niat yang tulus. Hal ini menjadi fokus utama dalam kegiatan Bimbingan Penyuluhan Keagamaan yang diadakan oleh Majelis Taklim (MT) Nurul Hidayah Gumingsir pada Selasa (11/11/2025).

Bertempat di Gedung Darul Athfal Cokroaminoto (DAC) Gumingsir, sebanyak 20 anggota MT Nurul Hidayah hadir untuk menyimak pencerahan dari Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan, M. Syaiful Abidin. Dalam sesi yang mengusung tema tajam, “Hati-Hati Jika Berbasa-Basi”, Syaiful Abidin secara gamblang membedah esensi dari interaksi sosial yang bernilai ibadah dan mana yang berpotensi menjadi sumber kekecewaan.

Syaiful Abidin menegaskan bahwa dalam konteks ajaran Islam dan etika sosial, setiap perkataan dan tawaran yang disampaikan harus didasari oleh kejujuran niat yang murni. Ia menyoroti fenomena “basa-basi” yang dilakukan hanya sebagai formalitas tanpa kesungguhan hati. Praktik ini, menurutnya, adalah kebiasaan berbahaya karena dapat menimbulkan dampak negatif, terutama berupa kekecewaan.

“Menawarkan sesuatu bukan sekadar basa-basi, tetapi karena memang ingin berbagi,” ujar Syaiful Abidin. “Sehingga ketika orang yang ditawari itu mau, hati kita senang dan bahagia, tidak malah kecewa. Indikator paling sederhana dari ketulusan niat adalah respons hati kita saat tawaran tersebut diterima.”

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa seorang Muslim diajarkan untuk menjaga perkataan dan menepati janji. Basa-basi kosong yang tidak tulus, bahkan dalam hal kecil seperti menawarkan makanan atau minuman, berpotensi merusak hubungan silaturahmi. Rasa kecewa yang muncul saat tawaran diterima adalah sinyal kuat bahwa tawaran tersebut hanya sebatas formalitas, bukan didorong oleh ketulusan ingin memberi.

Ketua MT Nurul Hidayah Gumingsir, Aji Nurwibowo, mengapresiasi tinggi penyuluhan yang disampaikan oleh KUA Pagentan. Menurutnya, materi tentang bahaya basa-basi kosong dan pentingnya niat tulus merupakan pengingat yang sangat relevan dan mendalam bagi seluruh anggota majelis taklim dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

“Materi ini adalah pengingat berharga bagi kami semua. Kami sering tidak sadar bahwa apa yang kami anggap sepele seperti basa-basi ternyata bisa bernilai ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar, dan sebaliknya bisa menjadi sumber kekecewaan jika hanya formalitas,” kata Aji Nurwibowo. Ia berharap, ilmu yang didapat ini dapat segera diimplementasikan.

Antusiasme peserta terlihat jelas dari sesi tanya jawab yang interaktif, di mana anggota majelis taklim berbagi pengalaman pribadi mereka terkait praktik basa-basi di lingkungan sosial. Diharapkan, kegiatan rutin semacam ini akan terus memperkuat pemahaman keagamaan, serta meningkatkan kualitas akhlak dan interaksi sosial anggota MT Nurul Hidayah Gumingsir agar selalu didasari oleh ketulusan dan kejujuran. 

(msa/ azd)

Skip to content