Banjarnegara – Dalam rangka memperkuat spiritualitas dan semangat para guru, Kepala Madrasah MIFABARA, Durotun Nafisah, memberikan pembinaan dan motivasi yang mengangkat sebuah hadis riwayat At-Tirmidzi tentang kisah Sahibul Bala. Pembinaan yang berlangsung di aula madrasah ini diikuti oleh seluruh dewan guru dengan penuh kekhidmatan dan antusiasme.(12/12)
Pada kesempatan tersebut, Durotun Nafisah menyampaikan bahwa kehidupan seorang pendidik tidak terlepas dari ujian. Dengan mengangkat kisah Sohibul Bala, beliau mengajak para guru memahami bahwa ujian yang datang bertubi-tubi bukanlah bentuk murka Allah, tetapi salah satu tanda naiknya derajat seseorang di hadapan-Nya.
“Sahibul Bala diuji terus menerus. Setiap selesai satu ujian, datang lagi ujian berikutnya. Namun ia tetap sabar, tetap ridha, tetap yakin kepada Allah. Karena kesabaran itulah Allah tempatkan ia pada manzilah tertinggi, tempat istimewa yang tidak semua hamba mendapatkannya,” ujar Durotun Nafisah dalam pembinaannya.
Beliau menekankan bahwa guru adalah pejuang ilmu yang setiap hari mengemban amanah besar. Tugas itu tentu tidak mudah, seringkali disertai tantangan baik dari siswa, keadaan, maupun lingkungan. Namun, tantangan itu justru menjadi jalan untuk mengangkat derajat seorang pendidik, sebagaimana kisah Sahibul Bala.
“Jika kita sabar, ikhlas, dan terus bekerja dengan amanah, insyaAllah setiap langkah kita menjadi amal jariyah yang mengalir tanpa henti. Ujian bukan untuk menjatuhkan kita, tetapi untuk menaikkan,” tambahnya.
Para guru mengaku sangat terinspirasi dengan pembinaan tersebut. Mereka merasa mendapatkan energi baru untuk terus bertahan dan istiqamah dalam mendidik generasi. Salah satu guru menyampaikan, “Penjelasan Kepala Madrasah membuat kami merasa bahwa perjuangan ini tidak sia-sia. Ada ganjaran besar di balik setiap ujian.”
Setelah menyampaikan motivasi spiritual, beliau memberikan nasihat penting terkait etika bermedia sosial. Tegas dan penuh kelembutan, beliau mengajak seluruh guru agar lebih berhati-hati dan selektif dalam membagikan konten.
“Tolong jaga marwah sebagai pendidik. Filter konten yang kita unggah. Jangan sampai konten di media sosial justru menampilkan keelokan tubuh, kecantikan paras, atau hal-hal yang tidak ada manfaatnya,” tegasnya.
Para guru mengaku sangat tersentuh dan tercerahkan dengan pembinaan ini. Dan MIFABARA berharap pembinaan ini menjadi energi baru bagi guru-guru agar semakin bijak, sabar, dan berintegritas dalam menjalankan tugas mulia mengajar.(nas)







