Banjarnegara (Humas) – Gema bulan suci Ramadhan 1447 H mulai terasa di pelosok Kabupaten Banjarnegara. Namun, bagi warga Desa Nagasari, Kecamatan Pagentan, persiapan menyambut bulan seribu bulan ini tidak lagi melulu soal kesibukan di dapur atau berburu takjil. Lebih dari itu, mereka sedang sibuk menyiapkan “karpet merah” spiritual untuk menyambut tamu yang mereka juluki sebagai “Tamu VIP”.
Pada Rabu (11/2/2026), suasana hangat menyelimuti salah satu ruang kelas di TK PGRI Nagasari. Sebanyak 22 anggota Majelis Taklim (MT) Qurrota A’yun tampak antusias mengikuti pembekalan khusus yang diselenggarakan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pagentan. Agenda ini bertujuan untuk memantapkan kesiapan batin dan wawasan keagamaan masyarakat sebelum memasuki bulan puasa.
Hadir sebagai narasumber, M. Syaiful Abidin, Penyuluh Agama Islam fungsional dari KUA Pagentan, memberikan analogi yang mendalam. Ia mengajak warga membayangkan Ramadhan sebagai sosok tamu terhormat yang datang membawa koper penuh hadiah dan keberkahan.
“Jika ada tamu penting datang ke rumah, kita pasti akan sibuk berbenah, membersihkan sudut ruangan, dan menyajikan hidangan terbaik. Ramadhan jauh lebih mulia dari itu. Maka, penyambutan kita haruslah totalitas, bukan sekadar rutinitas tahunan yang lewat begitu saja,” tegas Syaiful di hadapan para jamaah.
Dalam sesi tersebut, Syaiful membedah lima pilar utama persiapan yang harus dilakukan. Pertama adalah Persiapan Ruhiyyah, yakni membersihkan jiwa dari penyakit hati. Kedua, Persiapan ‘Amaliyyah, yaitu mulai membiasakan ibadah sunnah sejak bulan Sya’ban. Ketiga, Persiapan ‘Ilmiyyah, berupa pendalaman kembali ilmu fikih puasa agar ibadah tidak sekadar ikut-ikutan. Keempat adalah Persiapan Maliyyah, manajemen keuangan untuk memperbanyak sedekah. Terakhir, Persiapan Jasadiyyah untuk memastikan fisik tetap bugar selama menjalankan ibadah.
Ketua Majelis Taklim Qurrota A’yun, Winarsih, menyambut baik edukasi ini. Sebagai sosok yang juga memimpin TK PGRI Nagasari, ia melihat betapa pentingnya mengubah pola pikir masyarakat.
“Selama ini sering kali kita terjebak pada urusan fisik, seperti stok makanan untuk berbuka. Lewat penyuluhan ini, kami diingatkan bahwa persiapan ilmu dan mental jauh lebih krusial. Kami ingin Ramadhan 2026 menjadi titik balik transformasi diri bagi warga desa kami,” ungkap Winarsih dengan penuh harap.
Kegiatan yang berlangsung akrab dan penuh kekeluargaan ini diakhiri dengan doa bersama. Para warga berharap, dengan persiapan yang matang, mereka dapat memuliakan “Tamu VIP” tersebut dan meraih esensi ketakwaan yang sejati di akhir bulan nanti.
(msa/azd)







