Membentuk Karakter Generasi Z: Penyuluh Agama Islam Ajak Siswi SMP N 1 Pagentan Menjadi Remaja Salihah

Banjarnegara (Humas) – Di tengah khidmatnya ibadah puasa Ramadhan 1447 H, SMP N 1 Pagentan menggelar kegiatan edukasi yang sangat krusial bagi masa depan para siswinya. Pada Senin (9/3/2026), sesi kedua Amaliyah Ramadhan yang dimulai pukul 11.00 WIB menghadirkan Uswatin Chasanah, petugas dari Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan. Mengangkat tema “Menjadi Remaja salihah: Katakan Tidak pada Pernikahan Dini,” acara ini menjadi ruang diskusi mendalam mengenai pendewasaan usia perkawinan.

Kegiatan yang berlangsung di aula sekolah ini didampingi langsung oleh Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMP N 1 Pagentan, Afit Mucholadun. Kehadiran perwakilan KUA ini bertujuan memberikan pemahaman dari sudut pandang hukum Islam maupun undang-undang negara mengenai risiko besar di balik pernikahan di usia anak.

Dalam paparannya yang lugas, Uswatin Chasanah menjelaskan bahwa menjadi remaja salihah berarti memiliki kecerdasan untuk menjaga diri dan merencanakan masa depan yang gemilang. Beliau menekankan bahwa pernikahan bukanlah pelarian dari masalah ekonomi atau kejenuhan belajar, melainkan sebuah tanggung jawab besar yang memerlukan kematangan fisik, mental, dan finansial.

“Menjadi remaja salihah adalah tentang kemandirian dan kehormatan. Pernikahan dini sering kali memutus rantai mimpi dan pendidikan seorang perempuan. Islam sangat menghargai ilmu, maka kejarlah ilmu setinggi mungkin sebelum melangkah ke jenjang rumah tangga. Jangan korbankan masa depan emas kalian hanya karena dorongan emosi sesaat,” tegas Uswatin Chasanah di hadapan para siswi.

Beliau juga memaparkan risiko kesehatan reproduksi serta kerentanan sosial yang sering dialami oleh pasangan yang menikah di bawah umur, yang sangat bertolak belakang dengan visi membangun keluarga sakinah.

Afit Mucholadun, selaku Guru PAI, menyambut baik materi yang disampaikan. Menurutnya, sekolah memiliki kewajiban moral untuk membekali siswa dengan pemahaman yang benar agar tidak terjebak dalam pergaulan bebas yang sering kali berujung pada pernikahan dini yang tidak diinginkan.

“Kami sangat mengapresiasi bimbingan dari Ibu Uswatin. Sinergi antara sekolah dan KUA Pagentan ini sangat penting untuk memberikan proteksi berlapis bagi siswa. Kami ingin anak-anak didik kami fokus pada prestasi dan pembentukan akhlak, sehingga mereka paham bahwa pernikahan membutuhkan kesiapan yang matang, bukan sekadar mengikuti tren,” ungkap Afit Mucholadun.

Meskipun dilaksanakan di jam-jam kritis saat berpuasa, antusiasme siswi tidak surut. Sesi tanya jawab dipenuhi dengan diskusi mengenai cara menolak tekanan pergaulan dan pentingnya memiliki prinsip hidup yang kuat. Uswatin memberikan tips praktis agar para siswi aktif dalam kegiatan positif seperti organisasi sekolah dan memperdalam literasi keagamaan.

Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama dari para siswi untuk terus belajar dan menjaga diri. Harapannya, melalui edukasi ini, angka pernikahan dini di wilayah Pagentan dapat ditekan, dan lahirlah generasi perempuan yang tangguh, berilmu, dan berakhlakul karimah.

(uch/azd)

Skip to content