Banjarnegara (Humas) – Dalam upaya menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas kesiapan berkeluarga bagi masyarakat, dua instansi strategis di Kecamatan Pagentan melakukan koordinasi intensif. Penyuluh KB Kecamatan Pagentan, Purwanti Triaji dan Hesti Rahayu, melakukan kunjungan kerja ke Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan pada Kamis (16/4/2026).
Kedatangan tim penyuluh KB tersebut diterima langsung oleh Kepala KUA Pagentan, H. Sidik Pramono, di ruang kerjanya. Pertemuan yang berlangsung hangat ini fokus pada pembahasan pengaktifan kembali secara masif aplikasi Elsimil (Elektronik Siap Nikah dan Hamil) bagi para calon pengantin (catin) di wilayah Pagentan.
Program Elsimil sempat menjadi garda terdepan dalam mendeteksi dini faktor risiko stunting pada calon pengantin melalui skrining kesehatan sederhana. Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak sepakat bahwa edukasi pranikah tidak hanya soal administrasi dan hukum agama, tetapi juga kesiapan fisik dan reproduksi.
Kepala KUA Pagentan, H. Sidik Pramono, menyambut baik inisiatif ini. Beliau menekankan bahwa KUA memiliki peran krusial sebagai pintu pertama masuknya informasi bagi pasangan baru.
“Kami sangat mendukung pengaktifan kembali Elsimil secara lebih ketat. KUA bukan sekadar tempat mencatat nikah, tapi juga benteng pertama pencegahan stunting. Dengan sinergi ini, kami memastikan setiap pasangan yang mendaftar sudah teredukasi secara kesehatan sebelum melangkah ke pelaminan,” ujar H. Sidik Pramono.
Selain membahas teknis Elsimil, pertemuan ini juga merumuskan pola kerja sama baru antara Penyuluh Agama Islam dan Penyuluh KB. Keduanya dinilai memiliki basis massa yang kuat namun seringkali berjalan sendiri-sendiri. Kedepannya, penyuluh agama akan menyisipkan materi KB dan kesehatan reproduksi dalam bimbingan perkawinan (Binwin).
Purwanti Triaji, atau yang akrab disapa Tria, menjelaskan bahwa kolaborasi ini akan mempermudah jangkauan edukasi ke pelosok desa di Pagentan.
“Kami ingin kolaborasi ini lebih dari sekadar seremoni. Penyuluh KB dan Penyuluh Agama harus menjadi mitra karib di lapangan. Informasi tentang pencegahan stunting dan perencanaan keluarga akan jauh lebih efektif jika disampaikan dengan pendekatan nilai-nilai agama yang humanis,” tutur Tria.
Pertemuan ini diharapkan menjadi titik balik penguatan program pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana (Bangga Kencana) di tingkat kecamatan. Melalui sinkronisasi data dan penyuluhan bersama, diharapkan angka pernikahan dini dan risiko stunting di Kecamatan Pagentan dapat ditekan secara signifikan pada tahun 2026 ini.
(msa/azd)







