Banjarnegara (Humas) – Pendidikan agama anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga dimulai dari rumah melalui keteladanan orang tua. Pesan tersebut disampaikan Yulis selaku Penyuluh Agama Islam Kecamatan Pandanarum, saat memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada wali siswa TK Pertiwi Sirongge yang bertempat di halaman sekolah pada Selasa pagi. (9/6/2026)
Kegiatan yang berlangsung dalam suasana santai namun penuh makna tersebut mengangkat tema pentingnya sholat sebagai pondasi utama pendidikan agama anak. Para wali siswa tampak antusias mengikuti penyuluhan dan menyimak setiap materi yang disampaikan.
Dalam pemaparannya, Yulis menjelaskan bahwa sholat merupakan ibadah pertama yang kelak akan dihisab oleh Allah SWT. Oleh karena itu, kebiasaan sholat perlu ditanamkan sejak usia dini agar menjadi karakter yang melekat hingga dewasa. Menurutnya, mengenalkan sholat kepada anak tidak cukup hanya dengan perintah, tetapi harus dibarengi dengan contoh nyata dari orang tua.
Yulis menguraikan beberapa hal penting yang perlu dilakukan orang tua, di antaranya membiasakan anak melihat kedua orang tuanya melaksanakan sholat tepat waktu, mengajak anak ikut ke masjid atau mushala, mengenalkan gerakan dan bacaan sholat secara bertahap, serta memberikan apresiasi ketika anak mulai menunjukkan semangat beribadah.
“Jangan menunggu anak besar untuk diajari sholat. Justru masa kanak-kanak adalah waktu terbaik untuk menanamkan kecintaan kepada ibadah. Anak akan lebih mudah meniru apa yang dilakukan orang tuanya daripada apa yang hanya didengarnya,” tutur Yulis.
Ia juga menegaskan bahwa rumah sejatinya adalah madrasah pertama bagi anak. Ketika orang tua mampu menghadirkan suasana religius di rumah, maka nilai-nilai ibadah akan tumbuh secara alami dalam diri anak. Sebaliknya, apabila orang tua kurang memberikan teladan, anak akan kesulitan memahami pentingnya sholat dalam kehidupannya.
Salah satu wali siswa, Nani, mengaku mendapatkan banyak pelajaran dari kegiatan tersebut. Menurutnya, materi yang disampaikan sangat dekat dengan tantangan yang dihadapi para orang tua saat ini.
“Sering kali kami mengingatkan anak untuk sholat, tetapi ternyata yang lebih penting adalah memberi contoh terlebih dahulu. Penyuluhan ini membuka wawasan kami bahwa pendidikan sholat harus dimulai dari keteladanan orang tua di rumah,” ungkap Nani.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para wali siswa semakin memahami bahwa keberhasilan pendidikan agama anak tidak hanya ditentukan oleh lembaga pendidikan, tetapi juga oleh kesungguhan orang tua dalam membimbing, mendampingi, dan memberikan teladan ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, generasi yang tumbuh tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki fondasi spiritual yang kuat sejak usia dini.
(ev/azd)







