Bukan Sekadar Pengobatan, Penyuluh KUA Mandiraja Kuatkan Mental Pasien Puskesmas 1

Banjarnegara (Humas) — Ketika tubuh sedang sakit, pengobatan medis menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Namun, selain kebutuhan fisik, pasien juga membutuhkan penguatan batin agar tetap memiliki semangat, kesabaran, dan harapan dalam menjalani proses pengobatan. Hal tersebut menjadi perhatian Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Mandiraja melalui kegiatan Bimbingan Rohani dan Mental Islam (Bimrohis) di Puskesmas 1 Mandiraja, Jumat (18/9/2026).

Kegiatan tersebut diikuti oleh 10 pasien dan dilaksanakan oleh tiga Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Mandiraja, yakni Hendriyanto, Feti Sulistiyani, dan Dian Setiadi. Pendampingan berlangsung dalam suasana sederhana dan penuh keakraban dengan menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang relevan dengan kondisi pasien.

Para penyuluh mengajak pasien untuk tetap berikhtiar melalui pengobatan medis sekaligus memperkuat diri dengan doa, kesabaran, dan tawakal kepada Allah Swt. Pesan tersebut disampaikan sebagai penguatan agar pasien tidak mudah kehilangan semangat ketika menghadapi sakit.

Feti Sulistiyani menyampaikan bahwa kondisi sakit dapat memengaruhi tidak hanya fisik, tetapi juga suasana hati dan pikiran seseorang. Karena itu, perhatian terhadap aspek spiritual menjadi bagian yang dapat membantu pasien menjalani masa pengobatan dengan lebih tenang.

“Orang yang sedang sakit bukan hanya membutuhkan obat, tetapi juga membutuhkan perhatian, semangat, dan doa. Ikhtiar melalui tenaga kesehatan tetap dilakukan, sementara hati kita kuatkan dengan doa dan tawakal kepada Allah,” ujar Feti.

Menurutnya, penguatan rohani bukanlah pengganti pengobatan medis. Keduanya dapat berjalan berdampingan sesuai peran masing-masing. Pasien tetap diarahkan untuk mengikuti anjuran tenaga kesehatan, menjaga kondisi tubuh, dan menjalani pengobatan dengan baik.

Salah satu pasien, Mahathir Mohammad Gibran, yang sedang mengalami batuk dan pilek, mengaku merasakan suasana berbeda setelah mengikuti pendampingan Bimrohis. Ia menilai motivasi dan doa yang diberikan memberikan tambahan semangat selama menjalani pengobatan.

“Rasanya lebih tenang. Saat sakit kadang pikiran ikut tidak enak. Setelah diberi motivasi dan doa, saya menjadi lebih semangat untuk menjalani pengobatan,” ungkapnya.

Dalam kegiatan tersebut, para penyuluh juga mengingatkan pasien agar tidak berhenti berharap kepada Allah dalam kondisi apa pun. Kesabaran, doa, dan tawakal menjadi bagian dari sikap seorang muslim ketika menghadapi ujian, sementara ikhtiar pengobatan tetap harus dilakukan secara sungguh-sungguh.

Bimrohis di Puskesmas 1 Mandiraja menjadi salah satu bentuk layanan penyuluhan keagamaan yang dilaksanakan secara langsung kepada masyarakat. Kehadiran Penyuluh Agama Islam di fasilitas pelayanan kesehatan diharapkan dapat memberikan ruang bagi pasien untuk memperoleh penguatan spiritual di tengah proses pengobatan.

Melalui kegiatan tersebut, KUA Kecamatan Mandiraja terus mendorong pelaksanaan penyuluhan agama yang menyentuh kebutuhan nyata masyarakat. Pendampingan kepada pasien diharapkan dapat membantu menumbuhkan ketenangan, kesabaran, dan optimisme sehingga mereka tetap memiliki kekuatan hati dalam menjalani proses kesembuhan. 

(m/azd)