YANI ITSNAWATI DAMPINGI INISIOTOR MODERASI BERAGAMA KE DESA SADAR KERUKUNAN

Banjarnegara (Humas) –  Yani Itsnawati, Penyuluh Agama Islam Fungsional mendampingi siswa MAN 2 peserta lomba Pemilihan  Inisiator Muda Moderasi Beragama tahun 2024  Citra Dewi Saeful dan Alya Rahman Putri ke desa Somawangi, yang merupakan kampung moderasi beragama dan desa Sadar Kerukunan. Mereka mengunjungi tokoh Agama , pemeluk agama dan tempat ibadah yang ada di desa Somawangi  ( Jum’at, 06/09 ).

Pertama yang kunjungi Hadirin , salah seorang tokoh agama Islam dan Pengurus Desa Sadar Kerukunan. Hadirin mengatakan bahwa Somawangi merupakan desa yang majemuk karena mereka menganut Agama yang berbeda yaitu Agama Islam, Kristen , Budha dan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, ‘’ Alhamdulillah di sini aman dan damai tidak ada perselisihan, pertengkaran atau konflik sosial lain walaupun kami berbeda keyakinan, dan ini sudah terjadi sejak dahulu ‘’ ucapnya.

Darsinah, salah seorang penganut Agama Budha sangat senang tinggal di desa Somawangi walaupun merupakan minoritas tetapi tidak persoalan. Dia mengatakan ‘’ Kami di sini penganut Agama Budha di sini tidak mengalami diskriminasi, saling menghormati , kami biasa bergaul dengan penganut agama lain  dan kemarin tanggal 17 Juli 2024 kami hadir dalam acara pembinaan kerukunan beragama dan pentas seni budaya ,’’ ujarnya .

 Perlu diketahui bahwa Desa Somawang disamping sebagai kampung moderasi beragama juga ditetapkan sebagai Desa Sadar Kerukunan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Kementerian Agama Wilayah Jawa Tengah No : 352 tahun 2024 tanggal 23 Februari 2024 . Dan pada tanggal 17 Juli 2024 telah dilaksanakan Pembinaan Kerukunan dan Pentas Seni Kebudayaan yang di hadiri langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Jawa Tengah , Musta’in Akhmad.Pendeta Heru Siswanto, pendeta Gereja Suara Kebenaran Injil  GSKI Mandiraja  yang bertempat Somawangi RT 02 / 01  mengatakan bahwa Somawangi adalah surganya orang beribadah, maksudnya di sini semua orang bebas menjalankan agamanya atau keyakinannya masing-masing tidak  ada gangguan, halangan atau hambatan . Heru bercerita ‘’ Dulu ketika saya masih kecil ketika perayaan Natal, di depan gereja ada pentas seni Ketoprak yang ikut meramaikan Natal dan hebatnya para pemainnya adalah orang-orang Islam , yang artinya toleransi sudah ada sejak jaman dahulu dan mudah-mudahan akan terus terawat dan berlanjut , ‘’ katanya. (Yi/La)

Skip to content