Banjarnegara – Dalam rangka menyukseskan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2025/2026, SMP Negeri 1 Pandanarum mengundang dua penyuluh agama Islam dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pandanarum, yaitu Efatun Vaizah dan Suprihatin, sebagai narasumber utama dalam sesi penyuluhan nilai-nilai keagamaan dan pembinaan karakter. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, (16/7) bertempat di Mushola Sekolah, dan diikuti oleh seluruh peserta didik baru kelas VII.
Dalam kesempatan tersebut, Suprihatin menyampaikan materi bertema “Stop Nikah Usia Dini”. Ia menjelaskan bahwa pernikahan di usia anak sangat rentan membawa dampak negatif, seperti tingginya angka perceraian, putus sekolah, hingga ketidaksiapan mental dan ekonomi.
”Masa remaja adalah waktu yang tepat untuk belajar, menggali potensi diri, dan menata masa depan, bukan untuk memikul tanggung jawab pernikahan yang berat,” tegasnya
Sementara itu, Efatun Vaizah mengangkat isu yang sedang marak di kalangan remaja, yaitu “Bahaya Judi Online dan Game Online”. Dalam penyampaian yang interaktif dan komunikatif, Efatun menjelaskan bahwa kecanduan terhadap game dan judi online tidak hanya membuang waktu, tetapi juga bisa merusak kesehatan mental, hubungan sosial, dan prestasi akademik siswa.
“Saya mengajak siswa untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan yang lebih positif dan bermanfaat, seperti membaca, olahraga, atau mengikuti kegiatan keagamaan,” ajaknya
Kegiatan ini berlangsung dengan penuh perhatian dan antusiasme dari para siswa. Para peserta tampak serius menyimak materi dan aktif dalam sesi tanya jawab yang dipandu dengan suasana santai namun edukatif.
Salah satu siswI kelas VII, menyampaikan kesan dan pesan setelah mengikuti kegiatan ini. “Saya jadi tahu kalau menikah muda itu bisa bikin kita berhenti sekolah dan susah mengurus rumah tangga. Sekarang saya lebih semangat belajar supaya bisa sukses dulu sebelum menikah.”
Siswa lainnya, Rizky Ramadhan, mengaku bahwa materi tentang game dan judi online sangat menyentuh dirinya.“Saya sering main game sampai lupa waktu dan tugas. Setelah dengar penjelasan dari Bu Efatun, saya jadi sadar kalau itu bisa merugikan diri sendiri. Saya ingin lebih bijak pakai waktu dan mulai kurangi main game.”
Pihak sekolah, melalui panitia MPLS, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kontribusi para penyuluh agama yang telah membantu memberikan wawasan baru kepada para siswa baru. Kepala sekolah berharap kegiatan semacam ini dapat terus dilaksanakan secara berkala untuk memperkuat nilai karakter, akhlak mulia, dan semangat belajar di kalangan pelajar.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para siswa dapat lebih memahami tantangan yang ada di sekitar mereka dan mampu memilih jalan hidup yang lebih baik, penuh dengan cita-cita, semangat, dan nilai-nilai keagamaan yang kuat. (ev)







