Belajar Al-Qur’an Hadis dengan Praktik Mandiri, Murid Kelas 2D MIFABARA Tampil Percaya Diri

Banjarnegara – Pembelajaran Al-Qur’an Hadis di MIFABARA terus dikembangkan melalui metode yang aktif, kontekstual, dan memberikan pengalaman langsung kepada murid. Hal tersebut terlihat dalam pembelajaran Al-Qur’an Hadis kelas 2D bersama guru mata pelajaran, Choir, yang menggunakan Metode Pembelajaran Eksperimen/Praktik Mandiri dengan teknik Performance Based Learning.(29/8)

Melalui pendekatan tersebut, murid tidak hanya menerima materi dari guru, tetapi diberikan kesempatan untuk mencoba dan mempraktikkan secara langsung materi yang sedang dipelajari. Murid  diarahkan untuk menunjukkan pemahamannya melalui sebuah penampilan atau unjuk kerja.

Pembelajaran diawali dengan penguatan materi oleh guru. Setelah memahami instruksi dan contoh yang diberikan, murid kemudian melakukan praktik secara mandiri. Guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan arahan, mendampingi proses, serta memberikan penguatan terhadap kemampuan yang ditunjukkan oleh murid.

Teknik Performance Based Learning memberikan pengalaman belajar yang menarik bagi murid kelas 2D. Anak-anak belajar melalui proses melakukan, bukan hanya mendengarkan. Mereka ditantang untuk menunjukkan apa yang telah dipahami melalui tindakan nyata.

Dalam kegiatan tersebut, setiap murid mendapatkan kesempatan untuk tampil sesuai tugas dan kemampuannya. Ada yang masih terlihat malu-malu, ada pula yang tampil dengan penuh percaya diri. Perbedaan tersebut menjadi bagian alami dari proses pembelajaran karena setiap anak memiliki karakter dan kecepatan belajar yang berbeda.

Guru mata pelajaran Al-Qur’an Hadis, Choir, menyampaikan bahwa praktik mandiri memberikan kesempatan kepada murid untuk lebih aktif.

 “Anak-anak akan lebih mudah memahami ketika mereka tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga mencoba dan mempraktikkannya sendiri. Melalui Performance Based Learning, saya ingin melihat sejauh mana anak memahami materi sekaligus melatih keberanian dan kepercayaan dirinya,” jelas Choir.

Menurutnya, proses pembelajaran juga menjadi kesempatan bagi guru untuk mengamati kemampuan murid secara lebih utuh. Bukan hanya kemampuan mengingat materi, tetapi juga bagaimana murid menerapkan, menunjukkan, dan mengomunikasikan apa yang telah dipelajari.

Suasana kelas pun menjadi lebih hidup. Siswa belajar memberikan apresiasi dan memperbaiki kemampuan. Kesalahan tidak dipandang sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian dari proses belajar.

Pembelajaran ini juga sejalan dengan semangat Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang memberikan ruang kepada murid untuk tumbuh sesuai potensinya. Anak belajar mencintai ilmu, percaya pada kemampuan diri, menghargai teman, dan berani menunjukkan hasil belajarnya.(nas)