Belajar IPAS Semakin Asyik Melalui Pembuatan Flip Book di Kelas 6 MIFABARA

Banjarnegara – Suasana belajar di kelas 6 MIFABARA pagi ini terasa berbeda. Anak-anak tampak begitu bersemangat mengikuti pembelajaran IPAS dengan tema Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Tidak seperti biasanya, kali ini mereka diajak untuk berkreasi membuat flip book sederhana yang berisi rangkaian peristiwa penting menjelang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.13/10

Guru kelas 6, Avi, membuka kegiatan dengan menjelaskan secara runtut peristiwa bersejarah yang menjadi latar belakang lahirnya Proklamasi 17 Agustus 1945. Mulai dari peristiwa Rengasdengklok, ketika para pemuda membawa Soekarno dan Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan, hingga proses penyusunan naskah teks proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Anak-anak mendengarkan, beberapa mencatat hal-hal penting yang akan dituangkan dalam karya flip book.

Setelah mendapatkan penjelasan, Avi membagikan lembar kerja yang telah disiapkan. Di lembar tersebut, siswa diminta untuk menuliskan secara singkat setiap tahapan penting dalam perjuangan menuju kemerdekaan. Langkah berikutnya, mereka menggunting, mengurutkan, dan menempelkan hasil kerja itu menjadi flip book di buku tulis. Tak hanya menulis, anak-anak juga diberi kebebasan untuk menghiasnya dengan warna dan gambar agar tampil lebih menarik.

Suasana kelas pun berubah menjadi riuh penuh keceriaan. Beberapa siswa tampak saling bertukar ide, sementara yang lain sibuk memberi warna atau menambahkan ilustrasi kecil. Menurut Avi, metode pembelajaran seperti ini dapat menumbuhkan kreativitas dan keterampilan berpikir kronologis.

“Dengan pembelajaran yang seperti ini, anak-anak lebih mudah dalam memahami pelajaran, terlebih materi yang berkaitan dengan sejarah.” jelasnya.

Salah satu siswa turut mengungkapkan rasa senangnya.

“Senang belajar seperti ini, asyik dan materinya jadi mudah dipahami serta dihafalkan,” ujar seorang siswa sambil menunjukkan hasil flip book-nya yang penuh warna.

Kepala Madrasah, Durotun Nafisah menilai bahwa pembelajaran yang dirancang dengan cara kreatif seperti ini mampu membuat siswa lebih aktif dan mencintai pelajaran, khususnya sejarah.

“Kegiatan seperti ini sangat positif. Anak-anak belajar sejarah dengan cara yang menyenangkan dan bermakna. Saya bangga melihat semangat mereka. Semoga ke depan, model pembelajaran kreatif semacam ini terus dikembangkan,” tutur beliau.

Pembelajaran IPAS yang dikemas kreatif seperti ini menjadikan sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi sebuah inspirasi untuk terus menghargai jasa para pahlawan dan menumbuhkan semangat kebangsaan dalam diri setiap peserta didik.(nas)

Skip to content