Banjarnegara – Pembelajaran Al-Qur’an Hadis di kelas 6C MIFABARA hari Senin (13/10) disajikan secara inovatif melalui perpaduan antara Metode Discovery Learning dan Pendekatan Tematik. Fokus materi pada hari ini adalah Hukum Bacaan Ra (Tafkhim dan Tarqiq).
Guru mata pelajaran, Mahmudah, memandu siswa dalam proses menemukan (discovery) kaidah-kaidah Tajwid secara mandiri. Alih-alih memberikan rumus baku di awal, siswa diberikan berbagai potongan ayat Al-Qur’an yang mengandung huruf Ra dengan kondisi harakat yang berbeda-beda, disusun berdasarkan tema tertentu (misalnya, ayat-ayat tentang Hari Kiamat atau Akhlak).
“Kami ingin siswa tidak hanya menghafal aturan, tetapi memahami mengapa aturan itu ada,” jelas Mahmudah. “Melalui Discovery Learning, mereka menganalisis pola yang terjadi pada huruf Ra di berbagai ayat. Pendekatan Tematik membantu mereka merasakan relevansi ayat-ayat tersebut dalam satu konteks.”
Siswa kelas 6C dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Mereka ditugaskan mengamati dan mengidentifikasi kondisi huruf Ra (berharakat fathah, dammah, kasrah, atau sukun), bunyi bacaan Ra (tebal/tafkhim atau tipis/tarqiq), dan huruf sebelumnya.
Setelah proses analisis data Al-Qur’an ini, setiap kelompok diminta merumuskan hukum bacaan Ra berdasarkan pola yang mereka temukan.
Hasilnya menunjukkan efektivitas yang tinggi. Para siswa mampu menyimpulkan sendiri bahwa Ra dibaca tebal (Tafkhim) jika berharakat fathah atau dammah, dan dibaca tipis (Tarqiq) jika berharakat kasrah, serta merumuskan kaidah Ra sukun dengan tepat.
Salah satu siswa, Chafsoh, mengungkapkan, “Awalnya bingung, tapi setelah membandingkan banyak contoh ayat, tiba-tiba kami bisa membuat aturan sendiri. Jadi lebih mudah ingat aturannya.”
Menurut Durotun Nafisah, Kepala madrasah, metode seperti ini sejalan dengan semangat Merdeka Belajar, di mana siswa menjadi subjek utama dalam proses pembelajaran. “Discovery Learning membantu anak berpikir kritis, berani berpendapat, dan menemukan makna belajar dari pengalaman mereka sendiri. Inilah yang ingin kami kembangkan di MIFABARA,” ungkap Durotun.
“Kemandirian belajar harus menjadi budaya. Ketika siswa terbiasa menemukan sendiri, mereka akan tumbuh menjadi pembelajar sejati sepanjang hayat,” tambahnya.
Metode ini berhasil mendorong siswa menjadi subjek aktif dalam pembelajaran, meningkatkan kemampuan analisis teks Al-Qur’an, dan menanamkan pemahaman mendalam yang tidak mudah dilupakan. Inovasi ini menjadi model ideal dalam pengajaran Al-Qur’an Hadis di era Kurikulum Merdeka yang menuntut keaktifan siswa.(mch/nas)







